Senin, 15 Desember 2014

TASK 4



RAMALAN NO-TO-NE-GO-RO PADA PILPRES 2014


Sri Aji Joyoboyo, Raja Kediri, sangat masyhur dengan ramalannya yang jitu. Untuk urusan presiden atau pemimpin negeri ini, dia meramal "Notonegoro", penggalan suku kata nama presiden. Dan Jokowi, ternyata tak masuk hitungan.

Sri Aji Joyoboyo yang juga disebut Jayabaya pernah mengungkapkan, nusantara ini akan dipimpin oleh Notonegoro. Notonegoro bukan nama personal, namun penggalan suku kata nama pemimpin nasional. "No", misalnya, dipercaya sebagai Soekarno, presiden pertama. Kemudian "To", tak lain Soeharto, presiden kedua.

Terminologi Notonegoro ini sempat ramai diperbincangkan pascareformasi 1998. Bahkan, banyak buku politik yang membedah Notonegoro tersebut untuk mengupas teori kepemimpinan nasional. Interpretasinya sama, membaca siapa yang bakal muncul sebagai pemimpin di nusantara ini.

Jika di-otak-atik-gathuk, ternyata nama Jokowi --yang saat ini menjadi calon presiden terpopular -- justru tidak masuk dalam hitungan. Seperti mistik, tapi kenyataannya begitu. Mari kita telusuri bersama.

Kata "No-To-Ne (No)-Go-Ro" bisa dilihat sebagai berikut. "No" yang pertama, ya itu tadi, Soekarno. "To" tak lain Soeharto. "No" berikutnya dipercaya sebagai Habibie, presiden ketiga. Lho kok bisa? Ada yang menterjemahkan, Habibie itu bahasa Arab dari kata dasar hubbun yang diartikan sebagai cinta. Nah, cinta itu dalam bahasa Jawa disebut Tresno. Maka kloplah urutan "No-To-No".

Setelah Habibie, pemerintah Indonesia dipimpin oleh Gus Dur, panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid. Nah, sebutan Gus ini bisa ditafsirkan "Go" dalam urutan keempat "No-To-No-Go". Maklum, penulisan Gus dalam ejaan lama, bakal ditulis dengan huruf "oe" menjadi Goes Dur.

Pasca Gus Dur dilengserkan, muncul Megawati Seokarnoputri. Namanya ternyata bisa dikaitkan dengan "Ro" dalam "No-To-No-Go-Ro". Kata "Ro" itu diambil dari Soekarnoputri yang sama maknanya dengan Soekarnoputro.
Lalu bagaimana dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Konon, dia pengulangan awal "No-To-No-Go-Ro". Kata "No" pas dengan Yudhoyono sebagai presiden keenam.
Pertanyaannya kemudian, siapa presiden ketujuh jika merujuk ramalan Joyoboyo tadi? Presiden Indonesia yang ketujuh memang akan muncul pada Pilpres 2014.
Jika mengacu pada "No-To-No-Go-Ro", maka pemilik nama dengan simbol "To" yang akan muncul. Dan Jokowi yang merupakan capres dengan elektabilitas tertinggi, agaknya bakal tersingkir. Tak ada "To" di nama Joko Widodo.
Lantas siapa? Menariknya, ada dua nama yang menggunakan "To", yakni Wiranto dan Prabowo Subianto. Jika membandingkan keduanya, elektabilitas Wiranto (Hanura) masih kalah dari Prabowo Subianto (Gerindra).
Sementara Prabowo, justru merupakan capres dengan elektabilitas tertinggi sebelum munculnya nama Jokowi. Prabowo berhasil menarik simpati masyarakat dengan ide-ide dan strategi yang akan dicanangkan. Meski kini, kepopulerannya kalah jauh dari Jokowi.
Selain capres terpopuler setelah Jokowi, sejumlah media online di Amerika Serikat menyebut Prabowo memiliki peluang besar sebagai presiden mendatang. Salah satunya, media online bernama Scoops San Diego. Mereka menyebut, Prabowo merupakan calon presiden yang paling mungkin memenangkan pemilihan presiden 2014.

TASK 3 Artikel



Cerita Keraton Surosowan Banten
Sebagian Bangunan Peninggalan Keraton Surosowan


     Keraton Surosowan merupakan sebuah keraton kesultanan Banten. Sekitar tahun 1522-1526 M pada masa pemerintahan Sultan pertama Banten, yaitu Sultan Maulana Hasanudin dan banyak yang menjelaskan pemabangunannya melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang aresitek asal Belanda yang memeluk islam yang diberi gelar Pangeran Wirguna. Keraton Surosowan memiliki dinding pembatas setinggi 2 meter yang mengelilingi area keraton yang luasnya kurang lebih sekitar 3 hektar. Bangunan Keraton Surosowan ini memiliki kesamaan dengan benten Belanda yang kokoh denga bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat titik sudut  bangunannya. Didalam dinding Keraton Surosowan hanya menyisakan reruntuhan dinding dan pondasi kamar-kamar yang berbentuk persegi empat yang jumlahnya puluhan.


Ingin Tahu Sejarah Berdirinya Keraton Surosowan Banten ?

 
        Berdiri dan dibangun dengan kata “Gawe Kuta Baluwarti Bata Kalawan Kawis” yang arti bebasnya adalah “Membangun kota dan perbentengan dari bata dan karang”. Takluknya Prabu Pucuk Umun di Wahanten Girang (sekarang di kenal dengan daerah Banten Girang di Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang – Wahanten Girang merupakan bagian wilayah dari Kerajaan Padjadjaran yang berpusat di Pakuan – sekarang di kenal dengan wilayah Pakuan Bogor) pada tahun 1525 selanjutnya menjadi tonggak dimulainya era Banten sebagai Kesultanan Banten dengan dipindahkannya Pusat Pemerintahan Banten dari daerah Pedalaman ke daerah Pesisir pada tanggal 1 Muharam 933 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 (Microb dan Chudari, 1993:61).
 

Seperti Apa Bentuk Keraton Surosowan Banten ?




Keraton Surosowan memiliki tiga buah gerbang masuk, yang masing-masing terletak di sisi timur, utara dan selatan. Akan tetapi, pintu yang ada disebelah selatan telah ditutup dengan tembok yang belum diketahui apa sebabnya. Pada pertengahan Keraton Surosowan terdapat sebuah kolam yang berisi air berwarna hijau, yang sudah dipenuhi ganggang dan lumut. Didalam keraton ini juga terdapat banyak ruangan yang berhubungan dengan air atau ritual mandi (petiratan). Salah satu bangunan yang terkenal adalah bekas kolam taman, yang bernama Bale Kambang Rara Denok dan ada juga pancuran untuk mandi biasa yang dinamakan “pancuran mas”. Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat dengan lebar 13 meter, dengan panjang 30 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Ada dua sumber air di Surosowan yaitu sumur dan Danau Tasik kardi yang terletak sekitar dua kilometer dari Surosowan.
        Atas pemahaman geo-politik yang mendalam Sunan Gunung Jati menentukan posisi Keraton, Benteng, Pasar, dan Alun-Alun yang harus dibangun di dekat kuala Sungai Banten yang kemudian diberi nama Keraton Surosowan. Hanya dalam waktu 26 tahun, Banten menjadi semakin besar dan maju, dan pada tahun 1552 Masehi, Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negara bagian Kesultanan Demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai Sultan di Kesultanan Banten dengan gelar Maulanan Hasanuddin Panembahan Surosowan (Pudjiastuti, 2006:61).