Penerapan Esensialisme Pendidikan Dalam Pembelajaran
Esensialisme
adalah aliran filsafat pendidikan yang memandang bahwa pendidikan harus
didasarkan kepada nilai-nilai, kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat
manusia, yang mempunyai kejelasan dan tahan lama sehingga memberikan kestabilan
dan arah yang jelas. Menurut esensialisme pendidikan harus bertumpu pada
nilai-nilai yang telah teruji ketangguhannya dan kekuatannya sepanjang masa,
sehingga nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya / sosial adalah
nilai-nilai kemanusiaan yang berbentuk secara berangsur-angsur melalui kerja
keras dan susah payah selama beratus tahun, yang telah teruji dalam perjalanan
waktu. Esensialisme muncul pada zaman Renaissans, sebagi bentuk reaksi atas
pandangan progressivisme yang memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang
penuh fleksibilitas, dimana terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak terikat
dengan doktrin tertentu. Dalam hal ini esensialisme berpandangan bahwa pendidikan
harus didasarkan pada nilai-nilai, norma-norma, yang memiliki kejelasan dan
tahan lama, karena menurut esensialisme pendidikan yang tidak berpijak
pada dasar diatas akan mudah terpengaruh atau dengan kata lain bisa dikatakan
akan kurang terarah. Dengan demikian Renaissans adalah pangkal sejarah
timbulnya konsep-konsep pikiran esensialisme. Aliran esensialisme muncul
sebagai reaksi terhadap pandangan progressivisme yang materialistik, yang serba
bebas.
Dalam Esensialisme
mengharapkan agar pendidikan dan landasan-landasannya mengacu pada nilai-nilai
yang esensial. Dalam hal ini menurut esensialisme pendidikan harus mengacu pada
nilai-nilai yang sudah teruji oleh waktu, bersifat menuntun, dan telah berlaku
secara turun-temurun dari zaman ke zaman.
Pandangan esensialisme
pendidikan serta penerapannya dalam pembelajaran :
Tujuan Pendidikan
Tujuan
pendidikan esensialisme adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui
suatu inti pengetahuan yang telah terakumulasi, serta telah bertahan sepanjang
waktu untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh
keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang tepat untuk membentuk unsur-unsur
pendidikan yang inti (esensial), pendidikan diarahkan mencapai suatu tujuan
yang mempunyai standart akademik yang tinggi, serta pengembangan intelek atau
kecerdasan.
Kurikulum
Menurut aliran esensialisme kurikulum pendidikan lebih
diarahkan pada fakta-fakta (nilai-nilai), kurikulum pendidikan esensialisme berpusat pada mata pelajaran. Dalam hal ini ditingkat
sekolah dasar misalnya, kurikulum lebih ditekankan pada beberapa kemampuan
dasar, diantaranya yaitu kemampuan menulis, membaca dan berhitung. Sementara
itu dijenjang sekolah menengah penekanannya sudah lebih diperluas, misalnya sudah
mencakup sains, bahasa, sastra dan sebagainya. Kurikulum ideal adalah
kurikulum yang memberikan para siswa
kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan
menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri.
Kurikulum esensialisme memberikan perhatian yang besar
terhadap human dan seni. Karena kedua
materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan instrospeksi dan
mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong untuk melakukan
kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta
memperoleh pengetahuan yang diharapkan. Eksistensialisme menolak apa yang
disebut penonton teori. Oleh karena itu, sekolah harus mencoba membawa siswa ke
dalam hidup yang sebenarnya. Dalam hal ini
menurut pandangan esensialisme kurikulum yang diterapkan dalam sebuah proses
belajar menganjar lebih menekankan pada penguasaan berbagai fakta dan
pengetahuan dasar merupakan sesuatu yang sangat esensial bagi kelanjutan suatu
proses pembelajaran dan dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan secara
umum. Dengan kata lain penguasaan fakta dan konsep dasar disiplin yang esensial
merupakan suatu keharusan.
Metode pendidikan
Dalam pandangan
esensialisme, metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar lebih
tergantung pada inisiatif dan kreatifitas pengajar (guru), sehingga dalam hal
ini sangat tergantung pada penguasaan guru terhadap berbagai metode pendidikan
dan juga kemampuan guru dalam menyesuaikan antara berbagai pertimbangan dalam
menerapkan suatu metode sehingga bisa berjalan secara efektif.
Pendidikan
berpusat pada guru (teacher centered), umumnya diyakini bahwa pelajar tidak
betul-betul mengetahui apa yang diinginkan dan mereka harus dipaksa belajar. Metode
utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas,
penguasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.
Pelajar
Dalam pandangan esensialisme sekolah bertanggung jawab untuk
memberikan pengajaran yang logis atau terpercaya kepada peserta didik, sekolah
berwenang untuk mengevaluasi belajar siswa. Dengan kata
lain dapat dikatakan bahwa siswa adalah mahluk rasional dalam kekuasaan
(pengaruh) fakta dan keterampilan-keterampilan pokok yang diasah melakukan
latihan-latihan intelek atau berfikir, siswa kesekolah adalah untuk belajar
bukan untuk mengatur pelajaran sesuai dengan keinginannya. Dalam hal ini sangat
jelas dalam pandangan esensialisme bahwa pelajar harus diarahkan sesuai dengan
nilai-nilai yang sudah dakui dan tercantum dalam kurikulum, bukan didasarkan
pada keinginannya.
Pengajar
Menurut pandangan aliran filsafat esensialisme, dalam proses
belajar mengajar posisi guru adalah sebagai berikut:
a.
Peranan guru kuat dalam mempengaruhi
dan menguasai kegiatan-kegiatan di kelas.
b. Guru berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawasan nilai-nilai dan
penguasaan pengetahuan atau gagasan yang hendak ditanamkan kepada peserta didik.
Dengan kata lain dalam pandangan
esensialisme dalam proses belajar menganjar pengajar (guru) mempunyai peranan
yang sangat dominan dibanding dengan peran siswa, hal ini tidak terlepas dari
pandangan mereka tentang kurikulum dan juga tentang siswa dimana siswa harus
diarahkan sesuai dengan kurikulum yang sesuai dengan nilai-nilai yang sudah
teruji dan tahan lama, sehingga guru mempunyai peranan yang begitu dominan
dalam jalannya proses belajar menganjar. Guru
hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu
dialog. Guru menyatakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan
ide-ide lain, kemudian membimbing siswa untuk memilih alternative-alternatif,
sehingga siswa akan melihat bahwa kebenaran tidak terjadi pada manusia
melainkan dipilih oleh manusia. Lebih dari itu, siswa harus menjadi faktor
dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Siswa harus belajar keras seperti
gurunya.
Guru
harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa
mampu berpikir relative dengan melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti, guru
tidak mengarahkan dan tidak member instruksi. Guru hadir dalam kelas dengan
wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran.
Diskusi merupakan metode utama dalam pandangan esensialisme. Siswa memiliki hak
untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah merupakan suatu
forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru
membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.
Filsafat esensialisme lebih menfokuskan pada pengalaman-pengalaman
kita. Dengan mengatakan bahwa yang nyata adalah yang dialaminya bukan diluar
kita. Jika manusia mampu menginterpretasikan semuanya terbangun atas
pengalamannya. tujuan pendidikan adalah memberi pengalaman yang luas dan
kebebasan namun memiliki aturan-aturan. Peranan guru adalah melindungi dan
memelihara kebebasan akademik namun disisi lain guru sebagai motivator dan
fasilitator.
DAFTAR
PUSTAKA.
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan
Islami, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006.
Amsal Amri, Studi Filsafat Pendidikan, Banda
Aceh: Yayasan Pena, 2009.
Achmadi. Asmoro. 2009. Filsafat
umum. Jakarta. PT. RajaGrafindo Persada.
Bernadib, Imam. 1976. Filsafat
pendidikan. Yogyakarta. Karang Malang.
Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Aggota IKAPI,
2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar