Semua Cerita
Marching Band
Konon, Marching Band lahir pada pasca
Perang Dunia
II. Kegiatan ini bermula dari prakarsa para veteran PDII. Untuk mengenang
patriotisme mereka, bersama
generasi muda yang ada dilingkungannya mereka membentuk korps musik dengan
memainkan lagu-
lagu mars nostalgia PD II sambil berparde keliling kota dalam acara-acara
seremonial maupun celebration.
Karena memang pada awal pembentukan nya bertujuan untuk bernostalgia Perang
Dunia II yang
merekam banyak kenangan peristiwa-peristiwa dahsyat itu, maka pada awalnya kegitan
ini diberi nama
Military Band yang kemudian dalam perkembangannya berganti nama Marching
Band hingga
sekarang. Berawal dari kegiatan itulah kini Marching Band kian berkembang dan
menjadi sebuah kegiatan
yang positif yang melibatkan para pemuda dan tidak hanya terbatas pada kegiatan
parade saja. Hingga
saat ini Marching Band sudah merupakan jenis entertain musical show yang
kaya akan warnawarni artistikal,
baik musik maupun visual. Oleh karenanya
mereka tidak terbatas memainkan lagu mars saja. Lagu-lagu Pop, Jazz dan
bahkan Lagu lagu Klasik dan Opera kini merupakan bagian
dari musical
program mereka. Tulisan ini menceritakan sedikit tentang pengertian, pengetahuan
dasar, dan style
(gaya), jenis, alat dan person yang ada
dalam Marching
Band.
A. Defenisi
Marching Band.
Secara Etimologi kata Marching Band sampai
saat ini belum memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Asal-usulnya dari
benua eropa dan minim kosakata indonesia. Sehingga tidak heran jika semua kata-kata yang
berhubungan dengan marching band, baik dari namanama peralatan dan personilnya banyak
menggunakan atau diserap dari bahasa inggeris. Karena kata Marching Band diserap dari
bahasa inggeris, terdiri dari dua kata yakni march (verba/kata kerja) menurut kamus berarti berjal an,
kemudian menjadi kata benda atau sifat setelah mendapat imbuhan –ing
(Gerund), menjadi marching artinya
gerak (yang bergerak) atau Perjalanan (yang berjalan). Band artinya
kumpulan 2usic. Dengan demikian, Marching Band artinya music bergerak atau music berjalan (music
in motion). Marching Band adalah kegiatan seni music atau musical activity. Keseluruhan kegiatan marching Band
dibagi dalam dua bagian pokok yakni musical dan visual.
Keduanya merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bila kita lihat aktifitasnya dari
dekat, tata cara yang dilakukan maupun seragam yang digunakannya menyerupai militer.
Darisanalah kemudian kita sedikit tahu tentang kegiatan marching band yang berlatih 2usic serta
melatih disiplin ala militer. Berkenaan
dengan itu menurut Noer (2002:3) dalam zakaria “cikal bakal marching band berawal dari ketentaraan, Dimana seoorang
penabuh snare drum band bertguas menjaga tempo agar dalam baris-berbaris tempo
tersebut dapat menyeragamkan gerakan kaki dalam barisan”. Marching Band adalah suatu kegiatan
music yang dipergunakan bagai kepentingan baris berbaris atau sekumpulan orang yang memainkan
baris-berbaris atau sekumpulan orang yang memainkan 2usic dalam barisan pada
perkembangannya baik di dalam parade maupun acara ketentaraan marchiong band mulai
memperkaya lagu dan mulai membentuk harmoni baik dari seksi alat tiupnya. Dan dari seksi
perkusi mulai mengembangkan pukulan-pukulan ataupun ritme di dalam memainkan perkusinya. Selanjutnya Priyatna menjelaskan
(1992:2) dalam Alexander menjelaska: Marching Band yang berasal dari kata
march yang berarti berjalan dan band yang berarti kumpulan orang dan disebutkan sebagai
perkawinan antara seni 2usic dengan baris berbaris. Akan terus berkembang sesuai dengan perkembangannya sendiri.
Gabungan alat tiup dan snare drum, tenor dan dalam upacara ketentaraan cymbal menjadi
pimpinan berbaris baik dalam parade maupun dalam upacara ketentaraan. Dalam hal ini
penulis menggunakan istilah Marching Band untuk menunnjukkan marching band secara umum
termasuk drum band, drum corps, dan marching brass.
B. Sejarah
singkat lahirnya Marching Band dan perkembangannya di Indonesia.
Marching Band lahir pada pasca Perang
Dunia II. Kegiatan ini bermula dari prakarsa para veteran PDII. Untuk mengenang
2usic22ism mereka, bersama generasi muda yang ada dilingkungannya mereka membentuk korps
2usic dengan memainkan lagu- lagu mars nostalgia PD II sambil berparde keliling kota
dalam acara-acara seremonial maupun celebration dan kenegaraan. Konon, karena memang pada
awal pembentukan nya bertujuan untuk bernostalgia Perang Dunia II yang merekam banyak kenangan
peristiwa-peristiwa dahsyat itu, maka pada awalnya kegitan ini diberi nama Military
Band yang kemudian dalam perkembangannya berganti nama Marching Band hingga sekarang. Berawal dari kegiatan itulah kini
Marching Band kian berkembang dan menjadi sebuah kegiatan yang positif yang melibatkan
para pemuda dan tidak hanya terbatas pada kegiatan parade saja, Marching Band sudah
merupakan jenis entertain musical show yang kaya akan warna-warni artistikal, baik 2usic
maupun visual. Oleh karenanya mereka tidak terbatas memainkan lagu-lagi maras. Lagu-lagu
Pop, Jazz dan bahkan lagu-lagu klasik dan opera kini merupakan bagian dari musical program
mereka. Dalam tuntutan perkembangannya, mereka terus menerus mengembangkan
teknik-teknik bermain secar baik (Kirnadi, 2004: 3-15). Saat ini pandangan orang lebih
cenderung menganggap marching Band sebuah pertunjukan yang glamour dan bergengsi.
Sebenarnya marching band lebih banyak menampilkan 3usic3 seni, misalnya seni 3usic, tari
dan pertunjukan. Hal ini bias kita lihat dalam permainan alat tiup, perkusi, display, koreografi
tari pada colour guard dan bendera. Bahkan kian berkembang
tidak hanya terbatas pada kegiatan parade saja, sudah merupakan jenis entertain musical show yang memainkan lahu-lagu
pop, jazz, pop, dangdut, dan lain-lain. Dilihat dari sisi sejarah, Kirnadi
(2004:43-47) memaparkan bahwa dahulu pada masa penjajahan belanda, kebutuhan terhadap
korps musik untuk ceremonial pada zaman pemerintah Hindia Belanda waktu itu sangat
mendesak, maka untuk kebutuhan itu mereka segera membentuk korps musik dengan para
pemain lokal indonesia. Karena langkanya pemain tiup sedangkan kebutuhan terus mendesak,
maka korpsmusikpun dibuat dengan hanya menggunakan alat-alat pukul (drum) saja sehingga
mereka menamakan kelompok tersebut ‘drum band’, walaupun dalam perkembangannya kemudian dimasukkan
alat-alat musik tradisional atau bahkan alatalat tiup. Di istana kerajaan di jawa (misalnya:
istana mangkunegaran, istana hamengku Buwono,dll) pun kemudian membentuk drum
band yang imainkan oleh prajurit-prajurit istana yang hingga sekarang masih ada dan
terpelihara. Selanjutnya,
drum band kemudian ditumbuhkembangkan oleh Taruna Akabri dengan alasan patriotik,drum band yang tidak
memnuhi persyaratan musikalitu telah menjadi kebanggaan para taruna akabri hingga sekarang
bahkan dilembagakan. Dan oleh karenanya sulit untuk diubah dan dikembangkan. Pada masa multipartai yang kita sebut
orde lama, kelompok marching band seperti sekarang ini belum ada. Kalupun ada
hanya sedikit dan itupun di kota-kota besar saja. Kala itu kelompok drum band banyak
bermunculan dimana-mana yang dibentuk dan digunakan oleh partai-partai untuk
pawai unjuk kekuatan keliling kota. Dan bahkan drum band di sekolahpun ketika itu diberdayakan
untuk kepentingan partai. Alatnya pun sangat sederhana bahkan terkesan seadanya yang tidak
memnuhi persyaratan mutu. Pada
masa orde baru, drum band-drum band sekolah baik SD, SMP maupun SMA mulai bermunculan. Kemudian pada tahun 1977
lahirlah Assosiasi Drum Band Indonesia dengan nama Persatuan Drum Band Indonesia atau PDBI. PDBI ini
berupaya memajukan drum band melalui penyelenggaraan
perlombaan-perlombaan,misalnya Kejuaraan terbuka Drum Band Jakarta, piala sri
sultan Hamengku Buwono di yogyakarta serta kejuaraan nasional drum band
(kejurnas). Kemudian,
sekitar tahun 1980-an Marching Band mulai banyak bermunculan.Karena ketidakpuasan terhadap jenis lomba yang
diselenggarakn PDBI waktu itu. Dan pada bulan Desember 1982 digelar Turnamen
Investasi Marching Band (TIMB) yang pertama dilapangan tertutup Istora Senayan yang diikuti
oleh 39 unit Marching Band seluruh nusantara dengan hanya mempertandingkan display oleh (alm)
Bapak Gusanto Mulyohardjo. Dalam TIMB tersebut dihadiri oleh Presiden dari All Japan
Marching Band association dari jepang yakni Mr. Genkichi Harada. Selanjutnya, bertolak dari keberhasilan
TIMB yang pertama,maka pada tahun 1983 Turnamen Investasi Marching Band diubah
namanya menjadi’Grand Prix Marching Band” yang diselenggarakan pada bulan desember
1983 yang kemudian dikenal dengan nama GPMB. Alasan menggunakan istilah Grand Prix
pada waktu itu karena Grand Prix atau dalam bahasa Inggeris Gran Prize yang berarti
hadiah besar yang secara ideal hadiahnya dapat membantu pembinaan unit. Atas dasar
itu, maka penyelenggaraan GPMB II, III untuk juara umum diberikan hadiah Mellophone,
Xyllophone atau Dynabone yang waktu itu harganya cukup mahal dan tergolong langka. Seiring jatuh bangunnya penyelenggaraan
GPMB, dapat diakui bahwa bagaimanapun, dengan kondisi apapun, GPMB berhadil
memajukan Marching Band di Indonesia secara kualitatif. Dan lomba sejenis GPMB
mulai bermunculan di beberapa kota besar misalnya BOMB (Bandung Open Marching Band) di
Bandung, Hamengku Buwono Cup (HB Cup) di Yogyakarta, dan Jakarta Music Contest (JMC), dan
lain-lain.
C. Peralatan
Umum Marching Band.
Adapun jenis peralatan-peralatan yang
ada dalam Marching Band dapat juga disebut bagian barisan (line) secara umum
dijelaskan sbb:
1.
Alat tiup (Horn line/barisan tiup)
Alat
tiup marching band dibagi dalam 2 (dua jenis, yakni:
a.
Wood wind (tiup kayu): alat tiup yang menggunakan unsur kayu, contoh :
Clarinette, Flute/piucolo,
saxophone
b.
Brass wind( tiup logam): alat tiup yang menggunakan unsur logam, contoh:
trompet, cornet, flugel Horn, Mellophone, Trombone,
French Horn, Baritone Horn, Euphenium
Tuba, sousaphone.
2.
Alat tiup Pukul (Percussion line/ barisan perkusi).
Alat
tiup pukul (perkusi) dibagi dua bagian, yakni:
a.
Battery Percussion :
Contoh:
snare drum, timp-tom, bass drum
b.
Pit percussion:
Dalam
suatu show marching band, instrumen-instrumen yang tidak dapat disandang, misalnya timpani, conga, chime, china
gong, concert bass drum serta percussion accessories lainnya disebut pit
percusion. Pit percussion tersebut ditempatkan pada tempat khusus dan terpisah yang disebut
staging area. Staging area umumnya berada di depan atau disamping kiri dan atau
kanan field commander. Pit
percussion terseubut adalah: Xylophone, Marimba, bells, timpani, chimes, china
gong, concert
bass drum, bongo, timbales, suspended cymbals, wind chimes serta percussion accessories, misalnya tambourines,
triangles, claves, vibraslaps, cow bells, wood blocks, maracas, fingerm cymbals, dll.
3.
Colour Guard line (barisan pendukung)
Colour
guard line terdiri dari:
-
Flags atau silk (bendera).
-
Rifle (senapan)
-
Sabre (pedang)
Colour
guard tersebut digunakan dalam pagelaran marching band secara maksimal untuk memberikan efek visual. Jumlah
pemain guard ini antara 8 – 10 orang, bias 12 orang, 16, 18 dan bahkan 20 orang
lebih, tergantung jumlah seluruh pemain musiknya dalam ketetntuan tidak melebihi pemain
music inti.
v Asal-
usul colour guard.
Agar lebih memahami kegiatan ini,
berikut kami sampaikan sejarah singkat tentang asal usul colour guard sebagai berikut :
Di
amerika serikat, setiap marching band memiliki pataka. Pataka di amerika
disebut marching colour yang merupakan lambing/symbol
dan identitas sebuah organisasi marching
band. Seperti
juga pataka di Indonesia, pataka tersebut bagaikan benda pusaka yang harus dihormati, sebagai perwujudan
penghormatan tersbut, kemanapun patakan harus selalu dikawal oleh beberapa orang
pengawal yang disebut colour guard. Setiap mereka berparade dalam suatu
acara, pataka selalu dibawa serta dalam barisan yang ditempatkan dibarisan paling depan
oleh seorang atau dua orang pembawa petaka disertai beberapa pengawal
colour guard yang membawa bendera warnawarni, rifle (senapan) ataupun sabre (pedang). Dan ketika mereka mengadakan
pertunjukan display di lapangan, American colour bersama colour guard berbaris dipinggir
lapangan menunggu sampai usainya pertunjukan. Sampailah pada suatu hari
timbul gagasan dari sesorang untuk melibatkan para colour guard yang hanya
berdiri bagai patung tersebut kedalam kegiatan show (band display). Mulai
saat itulah colour guard eksis dalam bagian marching band yang terus berkembang.
D. Jenis
dan Personil Marching Band
1.
Jenis marching Band.
Dalam
buku kirnadi (2004: 15-22) dijelaskan bahwa marching Band adalah perkawinan antara seni musik dengan baris berbaris
dan seni tari. Dari alat-alat yang digunakan kita bias melihat bahwa marching band lahir dari
eropa. Dalam perkembangannya, marching band mengalami penyempitan makna sekaligus
perluasan bidang. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan istilah marching band untuk
menunjukkan marching band secara umum, termasuk drum band, drum cops dan marching
brass. Secara
umum dilihat dari jumlah anggotanya, marching band dibedakan menjadi:
a.
Drum Band
Ini
adalah unit terkecil, biasanya anggotanya berjumlah sekitar 50 orang. Unit ini biasanya terdapat pada tingkat Sekolah
Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama(SMP) sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
Alat yang digunakan juga sedikit, hanya terdiri dari recoder sopran dan alto, belllyra
dan pianica. Dalam alat pukul hanya terdapat beberapa snare drum, bass drum, dan
cymbal.
b.
Marching Band.
Unit
ini lebih banyak dari drum band, personilnya berjumlah sekitar 100 orang. Alat
yang digunakan
juga sudah lengkap. Alat tiup menggunakan trumpet: flugle, mellophone, marching trombone dan tuba. Dalam
percussion line terdapat snare drum, trio tom, quart tom, bass drum, cymbal, marching bells.
Bila alat tiup lebih banyak dan lebih bercvariasi digunakan dari alat pukul, biasanya
disebut marching brass.
c.
Drum corps.
Unit
ini adalah unit yang paling besar dan paling lengkap. Biasanya personilnya berjumlah lebih dari 100 orang. Alat
yang digunakan pada dasarnya sama dengan marching band, tapi jumlah personilnya
yang membedakan, lebih banyak dan lebih variatif.
2.
Personil dalam marching band.
Perosnil
atau orang yang memainkan marching band itu terbagi sbb:
a.
Field Commander (gitapati)
Adalah
komandan tertinggi dalam marching band. Ia bertugas untuk memimpin seluruh pasukan (pemain) dan mengatur
segala sesuatunya, termasuk lagu dan memberikan ketukan serta menjaga tempo.
Biasanya selalu berada di depan barisan. Oleh karena itu, biasanya ia memakai
pakaian yag sedikit berbeda dengan pemain lain. Dalam pertandingan, sebelum
tampil biasanya gitapati melakukan suatu atraksi untuk menarik perhatian penonton.
Atraksi ini bias berupa tarian, break dance, atau aksi lain yang dapat mengundang tepuk
tangan penonton.
b.
Drum Major dan Majorette (paramananda dan paramanandi)
Bertugas
membantu gitapati dalam meluruskan barisan, atau merapikan bentuk display. Biasanya ia membawa tongkat
yang telah dihiasi. Dengan tongkat itu ia menyajikan atraksi untuk menarik
perhatian penonton. Seperti halnya Field Commander, biasanya drum major pun
memakai kostum yang sedikit berbeda dengan personil lain.
c.
Hornline (barisan tiup).
Hornline
adalah sekumpulan pemain yang menggunakan alat tiup. Pasukan ini biasanya terdapat di depan. Pada
umumnya, jumlah pasukan ini adalah yang terbanyak dalam suatu marching band.
d.
Percussion line (barisan perkusi).
Yaitu
pemain alat pukul. Perbandingan jumlah pemain alat tiup (horn line) dan alat pukul (percussion line) yang ideal
adalah 3:1, sebab suara alat pukul lebih keras dari alat tiup.
e.
Dancer (penari).
Penari
yang dimaksud adalah pasukan yang tidak memainkan alat music baik alat pukul atau alat tiup. Mereka memberikan
warna untuk musik yang dimainkan. Dahulu hanya sekedar tim penbdukung,
namun saat ini sangat dibutuhkan sebagaimana pemain music karena
keduanya saling berkatan da mengisi satu sama lain. Penari ini bisa dibuat pada
barisan atau tim khusus atau masuk dalam tim tersendiri yang terdiri dari :
f.
Colour guard.
Colour
guard bertugas membawa bendera bertiang (flags) untiuk menarik perhatian penonton. Sambil pemain lain
memainkan alatnya. Colour guard menari dengan melakukan atraksi dengan
benderanya.Dalam pertandingan berskala nasional, Colour guard tidak hanya dilengkapi
dengan bendera saja, tapi juga alat lain seperti kipas, bunga, topeng, dsb. Karena
tugasnya untuk menarik perhatian penonton, biasanya posisi CG diisi oleh wanita.
Namun perkembangan sampai saat ini tidak terbatas untuk pria juga.
g.
Pompom Girl.
Adalah
sekumpulan wanita yang menjadi pendukung dalam marchin band. Biasanya mereka disatukan dengan colour
guard, artinya dirangkapkan. Dalam pertandingan berskala nasional, mereka
melakukan atraksi lain seperti tari topeng, tari dengan rebana, atau tarian
tradisional dan modern tergantung tema yang diusung oleh marching bandnya.
E.
Penutup
Marching Band adalah sebuah kegiatan
positif perpaduan antara seni dan olahraga. Dalam kegiatan Marching Band aktifitas
seni lebih dominan seperti seni Musik dan seni Tari, dan aktifitas olahraga terbentuk dengan
seni baris berbaris yang memiliki citi tersendiri. Tulisan ini baru awal saja sekedar pengetahuan
dasar untuk sebuah kegiatan seni. Kegiatan Marching Band ini perlu perhatian serius dari
pemerintah, pendidik, dan para Pembina generasi muda.
Daftar Pustaka.
Kirnadi,
2004. Pengetahuan Dasar Marching Band. Jakarta : PT Citra Intirama Nimon, Adi, 2005. Workshop: Marching
Clinic. Jakarta
Zakaria,
2003. Skripsi: Study Komparatif Marching Band UNIMED dan Marching Band MAN 1 Medan. Medan:FBS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar