Senin, 26 Januari 2015

TASK 14 MATEMATIKA MEMPENGARUHI CARA BERNALAR ANAK



PENGARUH POSITIF STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PROSES PENALARAN FORMAL ANAK 



ABSTRAK

Penalaran merupakan kegiatan, proses atau aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru berdasar pada beberapa pernyataan yang diketahui benar ataupun yang dianggap benar yang disebut premis. Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan atau proses berfikir yang menghubung-hubungka fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang bersifat khusus yang  sudah diketahui menuju kesimpulan yang bersifat umum (general).Penalaran deduktif adalah proses penalaran atau proses berfikir dari hal-hal yang bersifat umum (general) yang kemudian dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang bersifat khusus.Proses penalaran induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting dalam mempelajari matematika. Pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif yang digunakan untuk mempelajari konsep matematika kegiatannya dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), memperkirakan hasil baru yang diharapkan, yang kemudian dibuktikan secara deduktif. 




A.   PENDAHULUAN

      Latar Belakang Masalah
Pendidik merupakan faktor penting dalam pendidikan formal, karena harus memiliki perilaku dan kemampuan untuk mengembangkan siswanya secara optimal. Guru juga dituntut menyajikan pembelajaran yang bukan semata-mata mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi juga memiliki kemampuan meningkatkan kemandirian anak. Oleh karena itu guru harus dapat menciptakan kondisi proses pembelajaran yang dapat memberikan anak untuk berpikir, berpendapat dan berkreativitas sesuai dengan perkembangan yang dimiliki.
Salah satu tujuan mata pelajaran matematika adalah agar siswa mampu melakukan penalaran. Menurut Russeffendi (dalam Suwangsih, 2006 : 3) matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi. Matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan idea, proses, dan penalaran. Pada tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep matematika.
Menurut Suriasumantri (1999 : 42) penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Menurut Fadjar Shadiq (dalam Wardhani, 2008 : 11) penalaran adalah suatu proses atau suatu aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau proses berpikir dalam rangka membuat suatu pernyataan baru yang benar berdasarkan pada beberapa pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan atau diasumsikan sebelumnya. Materi matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Materi matematika dipahami melalui penalaran, dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar matematika. Jadi pola pikir yang dikembangkan matematika seperti yang dijelaskan di atas memang membutuhkan dan melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif.
Partisipasi aktif anak sangat berpengaruh pada proses perkembangan berpikir, emosi, dan sosial. Keterlibatan siswa dalam belajar, membuat anak secara aktif terlibat dalam proses penalaran formal dalam kehidupannya sendiri.

    Rumusan Masalah

1.      Apa itu Penalaran?
2.      Bagaimana Pengaruh Penalaran Formal Terhadap Pembelajaran Matematika ?
3.      Jenis-Jenis Penalaran Dalam Proses Pembelajarannya ?
4.      Indikator Penalaran Formal Dalam Matematika ?




B.     LANDASAN TEORITIK

    Konsep Mengenai Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut denganpremis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebutdengan konklusi(consequence).
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian. Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
·         Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
·         Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.


C.    PEMBAHASAN

    Pengertian Penalaran Formal
Penalaran berasal dari kata nalar yang mempunyai arti pertimbangan tentang baik buruk, kekuatan pikir atau aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis. Sedangkan penalaran yaitu cara menggunakan nalar atau proses mental dalam dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip. Istilah penalaran sebagai terjemah dari bahasa Inggris reasoning menurut kamus The Random House Dictionary berarti the act or process of a person who reasons (kegiatan atau proses seseorang yang berpikir). Sedangkan reason berarti the mental powers concerned with forming conclusions, judgements or inference (kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan kesimpulan dan penilaian.
 
    Pengaruh Penalaran Formal Terhadap Pembelajaran Matematika
Menurut Fadjar Shodiq, penalaran adalah suatu kegiatan berpikir khusus, dimana terjadi suatu penarikan kesimpulan, dimana pernyataan disimpulkan dari beberapa premis.7 Matematika dan proses penalaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Matematika dapat dipahami melalui proses penalaran, dan penalaran dapat dilatih melalui belajar matematika. Menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007) istilah penalaran mengandung tiga pengertian, di antaranya:
1) Cara (hal) menggunakan nalar, pemikir atau cara berpikir logis.
2) Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.
3) Proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran
dari beberapa fakta atau prinsip.
Dalam ilmu kognitif menjelaskan bidang penelitian psikologi yang mengurusi proses kognitif seperti perasaan, pengingatan, penalaran, pemutusan dan pemecahan masalah. Dengan demikian, kemampuan penalaran termasuk dalam belajar kognitif. Para ahli jiwa
dari aliran kognitif berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Pada tahap berpikir operasional formal (11-15 tahun) yang disampaikan oleh Piaget bahwa struktur kognitif menjadi matang secara kualitas dan anak akan mulai menerapkan operasi secara konkret untuk semua masalah yang dihadapi di dalam kelas. Berdasarkan ranah kognitif yang diungkapkan oleh Benyamin S. Bloom yaitu ranah yang mencakup kegiatan mental (otak), terdapat enam jenjang proses berpikir yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Selama proses berpikir analisis, kemampuan penalaran di sini sangat diperlukan. Sebelum kegiatan analisis dilakukan, maka seseorang harus mampu mengajukan dugaan. Dengan demikian, kemampuan mengajukan dugaan merupakan salah satu indikator dari kemampuan penalaran. Kemampuan penalaran juga sangat diperlukan dalam memahami suatu konsep materi pokok. Tanpa adanya kemampuan penalaran, maka peserta didik akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

    Jenis –Jenis Penalaran Dalam Proses Pembelajarannya
Jenis Penalaran Dalam proses pembelajaran tertumpu pada dua macam penalaran, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.
1) Penalaran induktif
Penalaran induktif yaitu suatu aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang bersifat umum (general) berdasarkan pada beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar.14 Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Dalam kompetensi dasar tentang menentukan himpunan bagian, salah satu indikator keberhasilannya adalah menentukan himpunan bagian dan menentukan banyak himpunan bagian suatu himpunan. Dalam menentukan banyak himpunan bagian suatu himpunan, peserta didik dikenalkan rumus tentang banyaknya himpunan bagian suatu himpunan yang dikaitkan dengan banyaknya anggota dari himpunan itu. Rumus itu dapat ditemukan sendiri oleh peserta didik dengan penalaran induktif.
2) Penalaran deduktif
Penalaran deduktif yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Jacobs menyatakan bahwa penalaran deduktif adalah suatu cara penarikan kesimpulan dari pernyataan atau fakta-fakta yang dianggap benar dengan menggunakan logika.

   
    Indikator Penalaran Formal Dalam Matematika
·         Indikator Penalaran Matematika
Indikator-indikator yang menunjukkan kemampuan penalaran matematika antara lain:
1) Mengajukan dugaan.
2) Melakukan manipulasi matematika.
3) Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberi alasan terhadap kebenaran solusi.
4) Menarik kesimpulan dari suatu pernyataan.
5) Memeriksa kesahihan suatu argumen.
6) Menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.
Sedangkan dalam Asep Jihad dijelaskan beberapa indikator dalam penalaran matematika yaitu:
1) Menarik kesimpulan logis.
2) Memberikan penjelasan dengan menggunakan model, fakta, sifatsifat, dan hubungan.
3) Memperkirakan jawaban dan proses solusi.
4) Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematika.
5) Menyusun dan menguji konjektur.
6) Merumuskan lawan contoh (counter examples).
7) Mengikuti aturan inferensi, memeriksa validitas argumen.
8) Menyusun argumen yang valid.
9) Menyusun pembuktian langsung, tak langsung dan menggunakan induksi matematika.
Indikator-indikator kemampuan penalaran tersebut sangat diperlukan dalam mempelajari materi pokok himpunan. Misalnya dalam pembuktian sifat-sifat operasi himpunan, peserta didik dapat menemukannya dengan pembuktian secara langsung dari contohcontoh soal yang ada. Selain itu kemampuan mengajukan dugaan dan melakukan manipulasi matematika juga sangat diperlukan untuk dapat melakukan operasi-operasi pada himpunan baik operasi irisan, gabungan, selisih, maupun komplemen. Dengan demikian, kemampuan penalaran sangat diperlukan dalam mempelajari materi pokok himpunan.



*    Contoh Kegiatan Penalaran dalam Matematika
Berikut ini beberapa kegiatan penalaran aeperti penyusunan dan pnegelompokkan, dan eksplorasi pola-pola, penalaran deduktif, dan mengevaluasi logika. Peran Penalaran dan Pembuatan Konjektur. Siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dapat menggunakan penalaran induktif serta pembuatan konjektur-konjektur.  Kegiatan-kegiatan penalaran diberikan dengan tujuan:
(1) Memberikan kesempatan kepada siswa agar mereka dapat mempraktekkan penggunaan keterampilan-keterampilan penalaran dan pembuatan konjektur-konjektur.
Dalam memperoleh suatu hasil, siswa juga harus belajar melalui proses matematika,
dengan menggunakan panalaran dan pembuatan konjektur. Pengalaman-pengalaman seharihari dalam mencari pola-pola (penalaran induktif), memformulasikan konjektur-konjektur
mengenai pola-pola, mengevaluasi konjektur menggunakan penalaran logika (deduktif),
dan mencari informasi yang banyak, membantu siswa memahami proses dalam
mengerjakan matematika (Silver, 1990). Apabila siswa diberikan kesempatan untuk
menggunakan penalaran induktif dan deduktif, serta membuat  konjektur-konjektur
matematika, maka mereka akan lebih mengenal matematika (Silver, 1990: 12). Lebih jauh, keterampilan-keterampilan proses seperti itu penting untuk mendorong tumbuhnya
kemampuan matematika lain yang diperlukan sebagai tujuan dalam pembelajaran, seperti
melakukan penyelesaian berbagai masalah.
(2) Mendorong tebakan yang edukatif. Takut akan salah juga menjadikan siswa takut membuat tebakan-tebakan (mengusulkan konjektur-konjektur) dalam kelas (Silver,1990).
Kebanyakkan siswa takut mengungkapkan kebingungan dan ketidaksetujuan mereka. Ketakutan ini seringkali bercampur baur dengan pengalaman mereka terdahulu dalam matematika. Adalah penting untuk menciptakan lingkungan kelas dimana siswa tidak takut salah.Guru seringkali tidak mendorong atau bahkan membatasi tebakan-tebakan
(misalnya guru mengatakan, “Kamu itu baru menebak”). Guru perlu membantu siswa
memperhatikan bahwa jawaban yang tidak benar adalah bagian dari proses belajar dan karena itu membuat tebakan terdidik atau konjektur-konjektur adalah penting. Siswa perlu mengetahui bahwa yang penting adalah hanya dengan membuat tebakan yang baik, memecahkan dan memperbaikinya, dan mendukungnya dengan fakta-fakta, sehingga setiap siswa benar-benar dapat mengerjakan matematika. Hal yang lain hanyalah sekedar ingatan. Matematika dalam hal seperti itu memerlukan keinginan untuk mengambil resiko dengan cara menawarkan untuk tebakan (Silver, 1990: 12).
(3) Membantu siswa memahami nilaijawaban negatif dalam menurunkan suatu           jawaban.Siswa perlu memahami bahwa tebakan yang tidak benar dapat menghilangkan
kemungkinan-kemungkinan tertentu dari pertimbangan selanjutnya. Mereka juga perlu
menghargai bahwa efektifitas suatu tebakan tergantung pada berapa banyak kemungkinan
yang hilang. Sebagai contoh, dalam permainan suatu kuis dengan sejumlah pertanyaan,
adalah lebih baik dimulai dengan menanyakan tentang kategori-kategori umum. Siswa harus memahami bahwa penalaran induktif dan konjektur, sebagaimana bukti-bukti logis (penalaran deduktif) memainkan peranan yang penting dalam matematika.
(4) Siswa perlu memahami bahwa pencarian pola-pola, keteraturan-keteraturan, hubungan, dan urutan merupakan inti dari matematika. Siswa perlu memahami bahwa aturan matematika harus dapat diterapkan pada semua situasi. Jadi, sebelum penemuan dapat dipandang sebagai suatu aturan, ia harus diuji dengan berbagai macam masalah, situasi, atau contoh-contoh. Apabila ia tidak lolos dari pengujian itu, maka keterbatasan atau pengecualiannya didefinisikan, atau penemuan itu tidak dapat dijadikan suatu aturan.Lebih jauh, siswa perlu mengenal bahwa apabila suatu polaberlaku pada banyak
contoh, selalu mungkin menemukan pengecualian.  Jadi, pola-pola harus ditelaah lebih mendalam, seperti dengan menggunakan penalaran deduktif. Untuk menuju ke arah itu, pendidikan matematika perlu memberikan penekanan pada peningkatan kemampuan penalaran siswa, sebagaimana telah disarankan oleh oleh National of Council of Teacher Mathematics (NCTM) yang telah dijelaskan oleh Wahyudin (2008: 526) bahwa Standar Penalaran dan pembuktian untuk siswa pra-TK hingga kelas 12 harus memungkinkan siswa untuk:
      1.Mengenali penalaran dan pembuktian sebagai aspek-aspek mendasar dari matematika
      2.Membuat dan menyelidiki dugaan-dugaan matematis
       3.Membangun dan mengevaluasi argumen-argumen dan pembuktian matematis
       4.Memilih dan menggunakan beraneka ragam penalaran dan metode-metode pembuktian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar