KEHIDUPAN MASYARAKAT BANTEN
Kehidupan sosial
Tahun
1670-an merupakan periode yang paling cemerlang dalam sejarah kerajaan banten.
Banten memiliki tempat berlabuh yang cukup besar, teluknya berukuran 18km x
10km, dan daerah perairan ini sangat tenang karena dilengkapi dengan sejumlah
pulau berbagai ukuran yang melindunginya dari laut lepas. Sungai yang
mengairinya bukan saja membentuk sebuah pelabuhan alamiah tetapi juga menjadi
suatu jalur komunikasi kearah lembah pertanian yang merupakan daerah pedalaman.
Sungai Cibanten yang berasal dari Gunung Karang, sekitar 30km di selatan,
terbagi menjadi dua sebelum mengalir ke laut. Kedua muara sungai ini membentuk
dua pelabuhan yaitu pelabuhan internasional di sebelah barat dan pelabuhan
lokal yang disebut karangantu (Claude Guillot,2008:66).
Kehidupan masyarakat Banten
yang memiliki latar belakang dalam dunia pelayaran, perdagangan dan pertanian
mengakibatkan masyarakat Banten memiliki jiwa bebas dan lebih bersifat terbuka,
dengan demikian mereka dapat bergaul dengan pedagang-pedagang dari berbagai
bangsa yang lain. Para pedagang lain tersebut banyak yang menetap dan
mendirikan serta membangun perkampungan di Banten, seperti perkampungan Keling,
perkampungan Pekoyan (Arab), perkampungan Pecinan (Cina) dan sebagainya. Selain
perkampungan tersebut ada pula perkampungan yang dibentuk berdasarkan
pekerjaan seperti Kampung Pande (para pandai besi), Kampung Panjunan
(pembuat pecah belah) dan kampung Kauman (para ulama).
Kehidupan sosial masyarakat
Banten memiliki landasan yang mengacu pada ajaran-ajaran yang berlaku dan
sesuai dengan agama Islam, sehingga kehidupan masyarakatnya hidup secara
teratur. Sebagai pusat penyebaran islam, Banten berusaha mengislamkan seluruh
wilayah Pajajaran. Bahkan penyebaran agama Islam itu meluas sampai ke Lampung,
Bengkulu, dan daerah-daerah lainnya sekitar Tulangbawang (Kosoh S, 1979:83). Di
Banten ada pula orang-orang keturunan Madura, mereka adalah kelompok
pelarian dari Madura yang meminta perlindungan ke Banten karena tidak
bersedia tunduk kepada Mataram. Selama Maulana Hasanuddin berkuasa, Banten
mengalami perkembangan yang pesat. Banten menjadi salah satu pusat penyebaran
Islam di Pulau Jawa. Pada masa inilah Banten melepaskan diri dari Demak, menjadi
kerajaan merdeka. Maka dari itu, Maulana Hasanuddin lalu dianggap sebagai
pendiri dan raja pertama Banten. Kekuasannya meliputi daerah Priangan (Jawa
bagian barat), Lampung, hingga Sumatera Selatan.
Maulana Hasanuddin juga
mempelopori pembangunan Istana Surosowan. Letak ibu kota Surosowan di Teluk
Banten sangat strategis untuk pertumbuhan dan perkembangan bahkan memuncaknya
Kesultanan. Istana atau keraton Surosowan ini berdekatan dengan Masjid Agung
Banten. Bagian yang tersisa dari istana ini selain benteng antara lain adanya
tempat pemandian, kolam, dan taman. Para sultan Banten bertempat tinggal di
Keraton Kaibon yang terletak di Kampung Kroya. Kaibon ini berlokasi tidak jauh
dari Surosowan. Pada tahun 1832 keraton ini dibongkar oleh Belanda. Selain
keraton, di Banten pun terdapat Benteng Speelwijk yang direbut dari VOC oleh
pasukan Banten ketika terjadi peperangan antar kedua pihak tersebut.
Penduduk-penduduk asli
Kesultanan Banten mendiami rumah-rumah penduduk yang tertutup dan tertata rapi
serta mengelilingi istana. Sedangkan bagi masyarakat Banten yang bermata
pencaharian sebagai nelayan dan pembuat kapal, mereka mendiami rumah di Tepi
Sungai Cibanten. Bagi kaum pendatang dan para pedagang asing, Sultan Hasanuddin
menyediakan lokasi di sebelah barat dan timur dari batas sebelah utara kota itu
sendiri. Transportasi perdagangan mengguankan rakit dalam kanal-kanal buatan.
Maulana Yusuf di samping
melanjutkan penyebaran Islam, juga melaksanakan pembangunan kota, membuat
perbentengan yang dibuat dari batu bata, membangun keraton dan lain-lain. Tak
lupa pula ia berusaha untuk mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya dengan jalan
menyempurnakan penanaman padi di sawah dengan sistem irigasi. Masjid dan
Pesantren pun mendapat perhatian yang besar dari pemerintahan Maulana Yusuf
(Kosoh S, 1979:84). Pada babad /Sejarah Banten diceritakan bahwa pada masa
Maulana Yusuf Kesultanan Banten mengalami kemajuan bukan saja dalam bidang
pembangunan kota, namun juga dalam pembangunan desa dan pembuatan persawahan
serta perladangan.
Pada masa pemerintahan Sultan
Ageng Tirtayasa, kehidupan sosial masyarakat Banten semakin meningkat dengan
pesat karena pada saat itu Sultan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.
Usaha yang ditempuh oleh Sultan Ageng Tirtayasa dalam menyejahterakan rakyatnya
salah satunya adalah menerapkan sistem perdagangan bebas yang mampu
mengusir VOC dari Batavia. Menurut catatan sejarah Banten, Sultan Banten
termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga agama Islam benar-benar menjadi
pedoman hidup rakyat. Meskipun agama Islam mempengaruhi sebagian besar
kehidupan Kesultanan Banten, namun penduduk Banten telah menjalankan dan
menunjukkan praktek toleransi terhadap keberadaan pemeluk agama lain. Hal
ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuah klenteng di pelabuhan Banten pada
tahun 1673. Tak jauh dari Keraton Surosowan ini terdapat kelenteng Cina kuno.
Kelenteng ini dibangun ketika pemerintahan awal Sultan Banten. Hal tersebut
merupakan bukti bahwa ketika itu telah terjalin toleransi antara orang Banten
dengan etnis Cina.
Kehidupan Budaya
Masyarakat yang berada
pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada di
Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam
suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan
tetap terpacu berdasarkan aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain
didapatkan dari migrasi penduduk Cina serta keberadaan pedagang India dan Arab
yang berinteraksi dengan masyarakat setempat. Adapun warisan kehidupan budaya
masyarakat Kesultanan Banten yang sampai sekarang ini masih mendarah daging di
masyarakat, diantaranya yaitu :
- Debus
Debus merupakan bentuk
permainan yang diciptakan untuk menguji ketabahan dan keimanan para prajurit
Banten (Sri Sutjiatiningsih, 1995:156). Namun pada masa Sultan Hasanuddin
berkuasa, kesenian debus mulai digunakan sebagai seni untuk memikat masyarakat
Banten yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha dalam rangka penyebaran Agama
Islam.
2.
Silat Bandrong
Kerajaan Banten sangat membutuhkan
orang – orang yang gagah berani,kuat dan banyak ilmunya. Seperti Ki Sarap untuk
menghadapi musuh yang lebih besar lagi, hal ini jelas Ki Sarap lebih kuat
dengan berhasilnya dia mengalahkan Ki Semar yang saat itu menjabat Senopati
Banten. Selanjutnya Ki Sarap dipanggil menghadap Sultan Maulana Hasanudin dan
dijelaskan oleh sultan bahwa hukuman Ki Sarap diberi tugas untuk menggantikan
Ki Semar sebagai senopati Kesultanan Banten dengan syarat harus mau melalui
ujian ketangkasan yaitu menembak anting – anting ( gegombel ) tudung permaisuri
Sultan tanpa melukainya sedikitpun. Persyaratan tersebut diterima oleh Ki
Sarap, walaupun dia tahu resikonya sangat tinggi mengingat dia bukanlah seorang
ahli dalam hal menembak. Namun pada akhirnya Ki Serap mampu melakukan tantangan
tersebut tanpa meluaki permaisuri sedikitpun. Dengan demikian Ki Sarap dapat
mengambil alih posisi Ki semar sebagi senopati Banten. Selanjutnya pendidikan
ketangkasan dan kedigjayaan itu dipusatkan di pulo kalih dan dibina langsung oleh
kedua kakak beradik Ki Sarap dan Ki Ragil. Disanalah mereka berdua menghabiskan
masa tuanya (Silat Indonesia:2008).
3.
Tradisi Panjang Mulud
Panjang mulud adalah
tempat untuk membawa makanan yang biasa dipajang saat perayaan Maulid Nabi.
Tradisi panjang mulud konon diwariskan sejak zaman Sultan Ageng Tirtayasa pada
era Kesultanan Banten. Bentuk panjang mulud sesuai dengan kreativitas
pembuatnya. Ada yang berbentuk kapal, rumah, burung dan bentuk lainnya. Berikut
gambar dari tradisi panjang mulud.
4.
Bahasa
Sebelum kedatangan Syarif
Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Banten bahasa penduduk yang pusat
kekuasaan politiknya di Banten Girang, adalah bahasa Sunda. Sedangkan bahasa
Jawa, dibawa oleh Syarif Hidayatullah, kemudian oleh puteranya, Hasanuddin, berbarengan
dengan penyebaran agama Islam. Dalam kontak budaya yang terjadi, bahasa Sunda
dan bahasa Jawa itu saling mempengaruhi yang pada gilirannya membentuk bahasa
Jawa dengan dialek tersendiri dan bahasa Sunda juga dengan dialeknya sendiri.
Artinya, bahasa Jawa lepas dari induknya (Demak, Solo, dan Yogya) dan bahasa
Sunda juga terputus dengan pengembangannya di Priangan sehingga membentuk
bahasa sunda dengan dialeknya sendiri pula.
Bahasa Jawa yang pada
permulaan abad ke-17 mulai tumbuh dan berkembang di Banten, bahkan menjadi
bahasa resmi keraton termasuk pada pusat-pusat pemerintahan di daerah-daerah.
Sesungguhnya pengaruh keraton itulah yang telah menyebabkan bahasa Jawa dapat
berkembang dengan pesat di daerah Banten Utara. Dengan demikian lambat laun pengaruh
keraton telah membentuk masyarakat berbahasa Jawa. Pada akhirnya, bahasa Jawa
Banten tetap berkembang meskipun keraton tidak ada lagi. Pada perkembangan
sekarang, bahasa Jawa Banten ternyata juga dipengaruhi oleh bahasa Indonesia;
mungkin demikian seterusnya, tetapi bahasa ini akan tetap ada sesuai dengan
keberadaan pendukungnya.
5.
Sistem Pengetahuan
Pengetahuan merupakan
bagian atau berguna sebagai salah satu unsur kebudayaan Banten, misalnya
pengetahuan tentang alam semesta. Pada fase perkembangan awal pengetahuan
tentang alam semesta, orang Banten beranggapan bahwa alam ini milik Gusti
Pangeran yang dititipkan kepada Sultan yang berpangkat Wali setelah Nabi.
Karena itu hierarchi Sultan adalah suci.
Gusti Pangeran itu
mempunyai kekuatan yang luar biasa yang sebagian kecil dari kekuatannya itu
diberikan kepada manusia melalui pendekatan diri. Yang mengetahui
formula-formula pendekatan diri untuk memperoleh kekuatan itu adalah para
Sultan dan para Wali, karena itu Sultan dan para Wali itu sakti. Kesaktian
Sultan dan para wali itu dapat disebarkan kepada keturunan dan kepada siapa
saja yang berguru atau mengabdi kepada wali tersebut. Pengetahuan yang berakar
pada alam semesta tersebut masih ada sampai kini sehingga teridentifikasi dalam
pengetahuan magis. Mungkin dalam perkembangan kelak tidak bisa diprediksi
menjadi hilang, bahkan mungkin menjadi alternartif bersama-sama dengan sistem
atau pengetahuan yang lain.
6.
Organisasi Sosial
Pada awal di jaman
Kesultanan, lapisan atas dalam stratifikasi sosial adalah pada Sultan dan
keluarganya/keturunannya sebagai lapisan bangsawan. Kemudian para pejabat
kesultanan, dan akhirnya rakyat biasa. Pada perkembangan selanjutnya, hilangnya
kesultanan, yang sebagian peranannya beralih pada Kiyai (kaum spiritual), dalam
stratifikasi sosial merekalah yang ada pada lapisan atas. Jika peranan itu
berpindah kepada kelompok lain, maka berpindah pulalah lapisan itu.
7.
Sistem Religi
Agama Islam sebagai agama
resmi keraton dan keseluruhan wilayah kesultanan, dalam upacara-upacaranya
mempunyai sistem sendiri, yang meliputi peralatan upacara, pelaku upacara, dan
jalannya upacara. Misalnya dalam upacara Shalat, ada peralatan-peralatan
seperti masjid, bedug, tongtong, menara, mimbar, mihrab, padasan (pekulen), dan
lain-lain. Demikian pula ada pelakunya, dari sejak Imam, makmum, tukang Adzan,
berbusana, dan lain-lain, sampai kemudian tata cara upacaranya.
Di jaman kesultanan, Imam
sebagai pemimpin upacara Salat itu adalah Sultan sendiri yang pada
transformasinya kemudian diserahkan kepada Kadi. Pada perubahan dengan tidak
ada sultan, maka upacara agama berpindah kepemimpinannya kepada kiyai.
Perkembangan selanjutnya bisa jadi berubah karena transformasi peranan yang
terjadi.
8.
Kesenian
Ada tanda-tanda kesenian
Banten yang merupakan kesenian peninggalan sebelum Islam dan dipadu atau
diwarnai dengan agama Islam. Misalnya arsitektur mesjid dengan tiga tingkat
sebagai simbolisasi Iman, Islam, Ihsan, atau Syari’at, tharekat, hakekat.
Arsitektur seperti ini berlaku di seluruh masjid di Banten. Kemudian ada
kecenderungan berubah menjadi bentuk kubah, dan mungkin pada bentuk apa lagi,
tapi yang nampak ada kecenderungan lepas dari simbolisasi agama melainkan pada
seni itu sendiri.
Arsitektur rumah adat
yang mengandung filosofi kehidupan keluarga, aturan tabu, dan nilai-nilai
privasi, yang dituangkan dalam bentuk ruangan paralel dengan atap panggung, dan
tiang-tiang penyanggah tertentu. Filosofi itu telah berubah menjadi keindahan
fisik sehingga arsitekturnya hanya bermakna aestetik.
Kesenian tradisional yang
ada, pada umumnya berkembang secara turun temurun yang tidak terlepas dari
nafas keagamaan dan perjalanannya tidak terlepas pula dari pengaruh agama Islam
maupun agama lainnya. Dalam masa kesultanan Banten, pengaruh islam cukup kuat,
sehingga mempengaruhi dalam perkembangan kesenian tradisional di Kabupaten
Serang sedikit demi sedikit kesenian tradisional sebagai peninggalan nenek
moyang, disisipkan ajaran-ajaran islam, hal ini karena merupakan salah satu
sarana yang cukup potensial dalam menyebarkan agama islam. Khususnya di
Kabupaten Serang sangat menyukai irama padang pasir dan berirama Arab, pengaruh
kesenian Arab itu tidak saja di bidang seni suara, tetapi juga dibidang seni
lainnya (Sri Sutjiatiningsih,1995:154).
9.
Wayang
Di tanah Jawa termasuk
Banten Kabupaten Serang masyarakatnya masih gemar terhadap pertunjukkan wayang,
kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para wali atau sultan dijadikan media
dakwah atau sarana komunikasi. Pujangga Islam telah memeras otak mengarang
cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran islam antara lain “Jimat
Kalima Sada” atau jimat dua kalimat syahadat (Sri
Sutjiatiningsih,1995:155).
10. Terbang
Gede
Terbang gede merupakan
suatu kesenian tradisional di daerah Banten dan merupakan kesenian yang tumbuh
dan berkembang pada waktu para penyebar agama aru dikalangan masyarakat Banten
pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pada masa itu kesenian terbang gede
digunakan sebagai seni media dakwah, penyebaran agama islam. Seni terbang gede
bernafaskan agama, hal ini terlihat dari lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan
berbahasa Arab (Sri Sutjiatiningsih, 1995:160).
DAFTAR
RUJUKAN
Guillot, C. 2008. Banten : Sejarah
dan Peradaban Abad X-XVII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Kosoh, S. 1979. Sejarah Daerah
Jawa Barat. Jakarta:Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan
Daerah.
Raddien. 2013. Tradisi Panjang
Mulud Tradisi Budaya Masyarakat Banten, (Online), (http://www.raddien.com/2013/01/tradisi-panjang-mulud-tradisi-budaya.html), diakses 29 Maret 2013.
Silat Indonesia. 2008. Sejarah
Singkat Silat Bandrong-Banten, (Online),
Sutjiatiningsih, S. 1995. Banten Kota
Pelabuhan Jalan Sutra. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi
Sejarah Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar