Selasa, 27 Januari 2015

TASK 16 KEHIDUPAN MASYARAKAT BANTEN




KEHIDUPAN MASYARAKAT BANTEN

Kehidupan sosial

            Tahun 1670-an merupakan periode yang paling cemerlang dalam sejarah kerajaan banten. Banten memiliki tempat berlabuh yang cukup besar, teluknya berukuran 18km x 10km, dan daerah perairan ini sangat tenang karena dilengkapi dengan sejumlah pulau berbagai ukuran yang melindunginya dari laut lepas. Sungai yang mengairinya bukan saja membentuk sebuah pelabuhan alamiah tetapi juga menjadi suatu jalur komunikasi kearah lembah pertanian yang merupakan daerah pedalaman. Sungai Cibanten yang berasal dari Gunung Karang, sekitar 30km di selatan, terbagi menjadi dua sebelum mengalir ke laut. Kedua muara sungai ini membentuk dua pelabuhan yaitu pelabuhan internasional di sebelah barat dan pelabuhan lokal yang disebut karangantu (Claude Guillot,2008:66).
Kehidupan masyarakat Banten yang memiliki latar belakang dalam dunia pelayaran, perdagangan dan pertanian mengakibatkan masyarakat Banten memiliki jiwa bebas dan lebih bersifat terbuka, dengan demikian mereka dapat bergaul dengan pedagang-pedagang dari berbagai bangsa yang lain. Para pedagang lain tersebut banyak yang menetap dan mendirikan serta membangun perkampungan di Banten, seperti perkampungan Keling, perkampungan Pekoyan (Arab), perkampungan Pecinan (Cina) dan sebagainya. Selain perkampungan tersebut  ada pula perkampungan yang dibentuk berdasarkan pekerjaan seperti Kampung Pande (para pandai besi),  Kampung Panjunan (pembuat pecah belah) dan kampung Kauman (para ulama).  
Kehidupan sosial masyarakat Banten memiliki landasan yang mengacu pada ajaran-ajaran yang berlaku dan sesuai dengan agama Islam, sehingga kehidupan masyarakatnya hidup secara teratur. Sebagai pusat penyebaran islam, Banten berusaha mengislamkan seluruh wilayah Pajajaran. Bahkan penyebaran agama Islam itu meluas sampai ke Lampung, Bengkulu, dan daerah-daerah lainnya sekitar Tulangbawang (Kosoh S, 1979:83). Di Banten ada pula orang-orang keturunan Madura, mereka adalah kelompok  pelarian dari Madura yang meminta perlindungan ke Banten karena tidak bersedia tunduk kepada Mataram. Selama Maulana Hasanuddin berkuasa, Banten mengalami perkembangan yang pesat. Banten menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa. Pada masa inilah Banten melepaskan diri dari Demak, menjadi kerajaan merdeka. Maka dari itu, Maulana Hasanuddin lalu dianggap sebagai pendiri dan raja pertama Banten. Kekuasannya meliputi daerah Priangan (Jawa bagian barat), Lampung, hingga Sumatera Selatan.
Maulana Hasanuddin juga mempelopori pembangunan Istana Surosowan. Letak ibu kota Surosowan di Teluk Banten sangat strategis untuk pertumbuhan dan perkembangan bahkan memuncaknya Kesultanan. Istana atau keraton Surosowan ini berdekatan dengan Masjid Agung Banten. Bagian yang tersisa dari istana ini selain benteng antara lain adanya tempat pemandian, kolam, dan taman. Para sultan Banten bertempat tinggal di Keraton Kaibon yang terletak di Kampung Kroya. Kaibon ini berlokasi tidak jauh dari Surosowan. Pada tahun 1832 keraton ini dibongkar oleh Belanda. Selain keraton, di Banten pun terdapat Benteng Speelwijk yang direbut dari VOC oleh pasukan Banten ketika terjadi peperangan antar kedua pihak tersebut.
Penduduk-penduduk asli Kesultanan Banten mendiami rumah-rumah penduduk yang tertutup dan tertata rapi serta mengelilingi istana. Sedangkan bagi masyarakat Banten yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan pembuat kapal, mereka mendiami rumah di Tepi Sungai Cibanten. Bagi kaum pendatang dan para pedagang asing, Sultan Hasanuddin menyediakan lokasi di sebelah barat dan timur dari batas sebelah utara kota itu sendiri. Transportasi perdagangan mengguankan rakit dalam kanal-kanal buatan.
Maulana Yusuf di samping melanjutkan penyebaran Islam, juga melaksanakan pembangunan kota, membuat perbentengan yang dibuat dari batu bata, membangun keraton dan lain-lain. Tak lupa pula ia berusaha untuk mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya dengan jalan menyempurnakan penanaman padi di sawah dengan sistem irigasi. Masjid dan Pesantren pun mendapat perhatian yang besar dari pemerintahan Maulana Yusuf (Kosoh S, 1979:84). Pada babad /Sejarah Banten diceritakan bahwa pada masa Maulana Yusuf Kesultanan Banten mengalami kemajuan bukan saja dalam bidang pembangunan kota, namun juga dalam pembangunan desa dan pembuatan persawahan serta perladangan.
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kehidupan sosial masyarakat Banten semakin meningkat dengan pesat karena pada saat itu Sultan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Usaha yang ditempuh oleh Sultan Ageng Tirtayasa dalam menyejahterakan rakyatnya salah satunya adalah menerapkan sistem perdagangan bebas  yang mampu mengusir VOC dari Batavia. Menurut catatan sejarah Banten, Sultan Banten termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga agama Islam benar-benar menjadi pedoman hidup rakyat. Meskipun agama Islam mempengaruhi sebagian besar kehidupan Kesultanan Banten, namun penduduk Banten telah menjalankan dan menunjukkan  praktek toleransi terhadap keberadaan pemeluk agama lain. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuah klenteng di pelabuhan Banten pada tahun 1673. Tak jauh dari Keraton Surosowan ini terdapat kelenteng Cina kuno. Kelenteng ini dibangun ketika pemerintahan awal Sultan Banten. Hal tersebut merupakan bukti bahwa ketika itu telah terjalin toleransi antara orang Banten dengan etnis Cina.

Kehidupan Budaya

Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap terpacu berdasarkan aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi penduduk Cina serta keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat. Adapun warisan kehidupan budaya masyarakat Kesultanan Banten yang sampai sekarang ini masih mendarah daging di masyarakat, diantaranya yaitu :

  1. Debus
Debus merupakan bentuk permainan yang diciptakan untuk menguji ketabahan dan keimanan para prajurit Banten (Sri Sutjiatiningsih, 1995:156). Namun pada masa Sultan Hasanuddin berkuasa, kesenian debus mulai digunakan sebagai seni untuk memikat masyarakat Banten yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha dalam rangka penyebaran Agama Islam.
2.    Silat Bandrong
Kerajaan Banten sangat membutuhkan orang – orang yang gagah berani,kuat dan banyak ilmunya. Seperti Ki Sarap untuk menghadapi musuh yang lebih besar lagi, hal ini jelas Ki Sarap lebih kuat dengan berhasilnya dia mengalahkan Ki Semar yang saat itu menjabat Senopati Banten. Selanjutnya Ki Sarap dipanggil menghadap Sultan Maulana Hasanudin dan dijelaskan oleh sultan bahwa hukuman Ki Sarap diberi tugas untuk menggantikan Ki Semar sebagai senopati Kesultanan Banten dengan syarat harus mau melalui ujian ketangkasan yaitu menembak anting – anting ( gegombel ) tudung permaisuri Sultan tanpa melukainya sedikitpun. Persyaratan tersebut diterima oleh Ki Sarap, walaupun dia tahu resikonya sangat tinggi mengingat dia bukanlah seorang ahli dalam hal menembak. Namun pada akhirnya Ki Serap mampu melakukan tantangan tersebut tanpa meluaki permaisuri sedikitpun. Dengan demikian Ki Sarap dapat mengambil alih posisi Ki semar sebagi senopati Banten. Selanjutnya pendidikan ketangkasan dan kedigjayaan itu dipusatkan di pulo kalih dan dibina langsung oleh kedua kakak beradik Ki Sarap dan Ki Ragil. Disanalah mereka berdua menghabiskan masa tuanya (Silat Indonesia:2008).

3.    Tradisi Panjang Mulud

Panjang mulud adalah tempat untuk membawa makanan yang biasa dipajang saat perayaan Maulid Nabi. Tradisi panjang mulud konon diwariskan sejak zaman Sultan Ageng Tirtayasa pada era Kesultanan Banten. Bentuk panjang mulud sesuai dengan kreativitas pembuatnya. Ada yang berbentuk kapal, rumah, burung dan bentuk lainnya. Berikut gambar dari tradisi panjang mulud.
4.    Bahasa
Sebelum kedatangan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Banten bahasa penduduk yang pusat kekuasaan politiknya di Banten Girang, adalah bahasa Sunda. Sedangkan bahasa Jawa, dibawa oleh Syarif Hidayatullah, kemudian oleh puteranya, Hasanuddin, berbarengan dengan penyebaran agama Islam. Dalam kontak budaya yang terjadi, bahasa Sunda dan bahasa Jawa itu saling mempengaruhi yang pada gilirannya membentuk bahasa Jawa dengan dialek tersendiri dan bahasa Sunda juga dengan dialeknya sendiri. Artinya, bahasa Jawa lepas dari induknya (Demak, Solo, dan Yogya) dan bahasa Sunda juga terputus dengan pengembangannya di Priangan sehingga membentuk bahasa sunda dengan dialeknya sendiri pula.
Bahasa Jawa yang pada permulaan abad ke-17 mulai tumbuh dan berkembang di Banten, bahkan menjadi bahasa resmi keraton termasuk pada pusat-pusat pemerintahan di daerah-daerah. Sesungguhnya pengaruh keraton itulah yang telah menyebabkan bahasa Jawa dapat berkembang dengan pesat di daerah Banten Utara. Dengan demikian lambat laun pengaruh keraton telah membentuk masyarakat berbahasa Jawa. Pada akhirnya, bahasa Jawa Banten tetap berkembang meskipun keraton tidak ada lagi. Pada perkembangan sekarang, bahasa Jawa Banten ternyata juga dipengaruhi oleh bahasa Indonesia; mungkin demikian seterusnya, tetapi bahasa ini akan tetap ada sesuai dengan keberadaan pendukungnya.

5.    Sistem Pengetahuan

Pengetahuan merupakan bagian atau berguna sebagai salah satu unsur kebudayaan Banten, misalnya pengetahuan tentang alam semesta. Pada fase perkembangan awal pengetahuan tentang alam semesta, orang Banten beranggapan bahwa alam ini milik Gusti Pangeran yang dititipkan kepada Sultan yang berpangkat Wali setelah Nabi. Karena itu hierarchi Sultan adalah suci.
Gusti Pangeran itu mempunyai kekuatan yang luar biasa yang sebagian kecil dari kekuatannya itu diberikan kepada manusia melalui pendekatan diri. Yang mengetahui formula-formula pendekatan diri untuk memperoleh kekuatan itu adalah para Sultan dan para Wali, karena itu Sultan dan para Wali itu sakti. Kesaktian Sultan dan para wali itu dapat disebarkan kepada keturunan dan kepada siapa saja yang berguru atau mengabdi kepada wali tersebut. Pengetahuan yang berakar pada alam semesta tersebut masih ada sampai kini sehingga teridentifikasi dalam pengetahuan magis. Mungkin dalam perkembangan kelak tidak bisa diprediksi menjadi hilang, bahkan mungkin menjadi alternartif bersama-sama dengan sistem atau pengetahuan yang lain.

6.    Organisasi Sosial

Pada awal di jaman Kesultanan, lapisan atas dalam stratifikasi sosial adalah pada Sultan dan keluarganya/keturunannya sebagai lapisan bangsawan. Kemudian para pejabat kesultanan, dan akhirnya rakyat biasa. Pada perkembangan selanjutnya, hilangnya kesultanan, yang sebagian peranannya beralih pada Kiyai (kaum spiritual), dalam stratifikasi sosial merekalah yang ada pada lapisan atas. Jika peranan itu berpindah kepada kelompok lain, maka berpindah pulalah lapisan itu.

7.    Sistem Religi

Agama Islam sebagai agama resmi keraton dan keseluruhan wilayah kesultanan, dalam upacara-upacaranya mempunyai sistem sendiri, yang meliputi peralatan upacara, pelaku upacara, dan jalannya upacara. Misalnya dalam upacara Shalat, ada peralatan-peralatan seperti masjid, bedug, tongtong, menara, mimbar, mihrab, padasan (pekulen), dan lain-lain. Demikian pula ada pelakunya, dari sejak Imam, makmum, tukang Adzan, berbusana, dan lain-lain, sampai kemudian tata cara upacaranya.
Di jaman kesultanan, Imam sebagai pemimpin upacara Salat itu adalah Sultan sendiri yang pada transformasinya kemudian diserahkan kepada Kadi. Pada perubahan dengan tidak ada sultan, maka upacara agama berpindah kepemimpinannya kepada kiyai. Perkembangan selanjutnya bisa jadi berubah karena transformasi peranan yang terjadi.

8.    Kesenian

Ada tanda-tanda kesenian Banten yang  merupakan kesenian peninggalan sebelum Islam dan dipadu atau diwarnai dengan agama Islam. Misalnya arsitektur mesjid dengan tiga tingkat sebagai simbolisasi Iman, Islam, Ihsan, atau Syari’at, tharekat, hakekat. Arsitektur seperti ini berlaku di seluruh masjid di Banten. Kemudian ada kecenderungan berubah menjadi bentuk kubah, dan mungkin pada bentuk apa lagi, tapi yang nampak ada kecenderungan lepas dari simbolisasi agama melainkan pada seni itu sendiri.
Arsitektur rumah adat yang mengandung filosofi kehidupan keluarga, aturan tabu, dan nilai-nilai privasi, yang dituangkan dalam bentuk ruangan paralel dengan atap panggung, dan tiang-tiang penyanggah tertentu. Filosofi itu telah berubah menjadi keindahan fisik sehingga arsitekturnya hanya bermakna aestetik.
Kesenian tradisional yang ada, pada umumnya berkembang secara turun temurun yang tidak terlepas dari nafas keagamaan dan perjalanannya tidak terlepas pula dari pengaruh agama Islam maupun agama lainnya. Dalam masa kesultanan Banten, pengaruh islam cukup kuat, sehingga mempengaruhi dalam perkembangan kesenian tradisional di Kabupaten Serang sedikit demi sedikit kesenian tradisional sebagai peninggalan nenek moyang, disisipkan ajaran-ajaran islam, hal ini karena merupakan salah satu sarana yang cukup potensial dalam menyebarkan agama islam. Khususnya di Kabupaten Serang sangat menyukai irama padang pasir dan berirama Arab, pengaruh kesenian Arab itu tidak saja di bidang seni suara, tetapi juga dibidang seni lainnya (Sri Sutjiatiningsih,1995:154).

9.    Wayang

Di tanah Jawa termasuk Banten Kabupaten Serang masyarakatnya masih gemar terhadap pertunjukkan wayang, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para wali atau sultan dijadikan media dakwah atau sarana komunikasi. Pujangga Islam telah memeras otak mengarang cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran islam antara lain “Jimat Kalima Sada” atau  jimat dua kalimat syahadat (Sri Sutjiatiningsih,1995:155).
10. Terbang Gede
Terbang gede merupakan suatu kesenian tradisional di daerah Banten dan merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang pada waktu para penyebar agama aru dikalangan masyarakat Banten pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pada masa itu kesenian terbang gede digunakan sebagai seni media dakwah, penyebaran agama islam. Seni terbang gede bernafaskan agama, hal ini terlihat dari lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan berbahasa Arab (Sri Sutjiatiningsih, 1995:160).



DAFTAR RUJUKAN
 Guillot, C. 2008. Banten : Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Kosoh, S. 1979. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta:Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.
Raddien. 2013. Tradisi Panjang Mulud Tradisi Budaya Masyarakat Banten, (Online), (http://www.raddien.com/2013/01/tradisi-panjang-mulud-tradisi-budaya.html), diakses 29 Maret 2013.
Silat Indonesia. 2008. Sejarah Singkat Silat Bandrong-Banten, (Online),
Sutjiatiningsih, S. 1995. Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar