Model
Pembelajaran Berbasis Masalah dan Penilaian Portofolio
A. Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
1. Pengertianproblem based learning
Pengajaran berdasarkan
masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto,
2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan
respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan
masukan kepada peserta didik berupa bantuan
dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu
secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai,
dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pembelajaran
Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris Problem-based Learning
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu
masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan
pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.
Boud
dan Feletti dalam Rusman (2010) mengemukakan bahwa Model Pembelajaran Berbasis
Masalah (Problem Based Learning)
adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Margetson dalam Rusman
(2010) mengatakan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) membantu untuk
meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir
yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif, serta memfasilitasi
keberhasilan memecahkan masalah, komunikasi, kerja kelompok, dan keterampilan
interpersonal dengan lebih baik dibanding model lain.
“Problem Based Learning (PBL) is a
method of learning in which learners first encounter a problem followed by a
systematic, learned centered inquiry and reflection process”. Artinya Problem Based
Learning (PBL) adalah suatu
metode pembelajaran dimana pembelajar bertemu dengan suatu masalah yang
tersusun sistematis; penemuan terpusat pada pembelajar dan poses refleksi
(Teacher and Edcucational Development ,2002).
Menurut Jodion
Siburian, dkk dalam Utami (2011), Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran
kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian
dengan melalui pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar
keterampil-keterampilan yang lebih mendasar.
Selain
itu,Muslimin dalam Utami (2011) mengatakan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu model untuk membelajarkan
siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan
masalah, belajar peranan orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar
mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru
memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi
pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar
berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan
menjadi pembelajaran yang mandiri.
Berdasarkan
beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
adalah model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada peserta
didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari
peserta didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah tersebut untuk
menemukan pengetahuan baru. Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan
menyajikan kepada peserta didik suatu situasi masalah yang autentik dan
bermakna serta memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan
dan inkuiri.
Pendekatan pembelajaran berbasis
masalah (problem-based learning / PBL) adalah konsep pembelajaran yang
membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah
yang penting dan relevan (bersangkut-paut) bagi peserta didik, dan memungkinkan
peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata).
Pembelajaran Berbasis Masalah
melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif,
berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah
dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam
kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini.
Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan melakukan kerja
kelompok antar peserta didik. peserta didik menyelidiki sendiri, menemukan
permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya di bawah petunjuk fasilitator
(guru).
Pembelajaran Berbasis Masalah
menyarankan kepada peserta didik untuk mencari atau menentukan sumber-sumber
pengetahuan yang relevan. Pembelajaran berbasis masalah memberikan tantangan
kepada peserta didik untuk belajar sendiri. Dalam hal ini, peserta didik lebih
diajak untuk membentuk suatu pengetahuan dengan sedikit bimbingan atau arahan
guru sementara pada pembelajaran tradisional, peserta didik lebih diperlakukan
sebagai penerima pengetahuan yang diberikan secara terstruktur oleh seorang
guru.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based
learning), selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada
peserta didik. PBL adalah suatu model pembelajaran vang, melibatkanpeserta
didik untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga
peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah.
2.
Ciri-ciri
Pembelajaran Berbasis Masalah
1.
Pertama, strategi pembelajaran
berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam
pembelajaran ini tidak mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan,
mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi
pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi,
mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
2.
Kedua, aktivitas pembelajaran
diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa
masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3.
Ketiga, pemecahan masalah dilakukan
dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan
menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses
berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya
berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris
artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
3.
Komponen-Komponen
Pembelajaran Berbasis Masalah
Komponen-komponen pembelajaran
berbasisi masalah dikemkakan oleh Arends, diantaranya adalah :
a.
Permasalahan autentik. Model
pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting
secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi
peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang
sederhana.
b.
Fokus interdisipliner. Dimaksudkan
agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai
perspektif keilmuan.
c.
Pengamatan autentik. Hal ini
dinaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk
menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat
prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat
inferensi, dan menarik kesimpulan.
d.
Produk. Peserta didik dituntut untuk
membuat produk hasil pengamatan.produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan
dan didemonstrasikan kepada orang lain.
e.
Kolaborasi. Dapat mendorong
penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan
keterampilan sosial.
4. Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis
Masalah
Model pembelajaran berbasis masalah
adalah pembelajaran yang menekankan padaproses penyelesaian masalah. Dalam
implementasi model pembelajaran berbasis masalah, guru perlu memilih bahan
pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Model pembelajaran berbasis masalah ini dapat
diterapkan dalam kelas jika :
a.
Guru bertujuan agar peserta didik
tidak hanya mengetahui dan hafal materi pelajaran saja, tetapi juga mengerti
dan memahaminya.
b.
Guru mengiginkan agar peserta didik
memecahkan masalah dan membuat kemampuan intelektual siswa bertambah.
c.
Guru menginginkan agar peserta didik
dapat bertanggung jawab dalam belajarnya.
d.
Guru menginginkan agar peserta didik
dapat menghubungkan antara teori yang dipelajari di dalam kelas dan kenyataan
yang dihadapinya di luar kelas.
e.
Guru bermaksud mengembangkan
kemampuan peserta didik dalam menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan,
mengenal antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat
tugas secara objektif.
5. Sintaks Pembelajaran Berbasis
Masalah
Langkah-langkah
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem
Based Learning) adalah sebagai berikut: (Rusman, 2010).
|
Tahapan
|
Tingkah Laku Guru
|
|
Tahap 1:
Orientasi siswa
kepada masalah
|
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan
logistik
yang dibutuhkan, memotivasi siswa
agar terlibat pada pemecahan
masalah
yang dipilihnya.
|
|
Tahap 2:
Mengorganisasi
siswa untuk belajar
|
Guru membantu siswa
mendefinisikan
dan mengorganisasikan tugas
belajar
yang berhubungan dengan masalah
tersebut.
|
|
Tahap 3:
Membimbing
penyelidikan
individual dan
kelompok
|
Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang
sesuai,
melaksanakan eksperimen, untuk
mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalahnya
|
|
Tahap 4:
Mengembagkan dan
menyajikan hasil
karya
|
Guru membantu siswa merencanakan
dan menyiapkan karya yang sesuai
seperti laporan, video dan model
serta
membantu mereka berbagi tugas
dengan temannya.
|
|
Tahap 5:
Menganalisis dan
mengevaluasi proses
pemecahan masalah
|
Guru membantu siswa melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan
proses-proses
yang mereka gunakan.
|
Untuk lebih jelas lagi
berikut uraian fase-faase problem based learning terutama dalam hal aktivitas
yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran menggunakan model problem
based learning ini.
Fase 1:
Mengorientasikan siswa pada masalah
Pembelajaran
dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang
akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru
harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa dan juga
oleh dosen. Disamping proses yang akan berlangsung, sangat penting juga
dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat
penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran
yang akan dilakukan.
Fase 2:
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Disamping
mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong
siswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan
kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat memulai
kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana
masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda.
Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat
digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya
interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan
sebagainya. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing
kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
Setelah
siswa diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar
selanjutnya guru dan siswa menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik,
tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini
adalah mengupayakan agar semua siswa aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan
penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian
terhadap permasalahan tersebut.
Fase 3:
Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Penyelidikan
adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik
penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang
identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan,
dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek
yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk
mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai
mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar
mahasiswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka
sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca tentang
masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu siswa untuk mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan
pertanyaan pada mahasiswa untuk berifikir tentang massalah dan ragam informasi
yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Fase 4:
Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya
Tahap
penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran.
Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu videotape
(menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan
secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian
multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir
mahasiswa. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru
berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini
melibatkan mahasiswa-mahasiswa lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang
dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.
Fase 5:
Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
Fase ini
merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu siswa
menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan kete-rampilan
penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta
mahasiswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan
selama proses kegiatan belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh
pemahaman yang jelas tentang situasi masalah? Kapan mereka yakin dalam
pemecahan tertentu? Mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap
dibanding yang lain? Mengapa mereka menolak beberapa penjelasan? Mengapa mereka
mengadopsi pemecahan akhir dari mereka? Apakah mereka berubah pikiran tentang
situasi masalah ketika penyelidikan berlangsung? Apa penyebab perubahan itu?
Apakah mereka akan melakukan secara berbeda di waktu yang akan datang? Tentunya
masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memberikan umpan balik
dan menginvestigasi kelemahan dan kekuatan PBL untuk pengajaran.
6. Penilaian dan Evaluasi
Prosedur-prosedur
penilaian harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai dan hal
yang paling utama bagi guru adalah mendapatkan informasi penilaian yang
reliabel dan valid.
Prosedur evaluasi pada model
pembelajaran berbasis masalah ini tidak hanya cukup dengan mengadakan tes
tertulis saja, tetapi juga dilakukan dalam bentuk checklist, reating scales,
dan performance. Untuk evaluasi dalam bentuk performance atau kemampuan ini
dapat digunakan untuk mengukur potensi peserta didik untuk mengatasi masalah
maupun untuk mengukur kerja kelompok. Evaluasi harus menghasilkan definisi
tentang masalah baru, mendiagnosanya, dan mulai lagi proses penyelesaian baru.
7.
Keunggulan
dan Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Sebagai suatu model pembelajaran,
model pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
1.
Pemecahan masalah merupakan teknik
yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2.
Pemecahan masalah dapat menantang
kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan
baru bagi peserta didik.
3.
Pemecahan masalah dapat meningkatkan
aktivitas pembelajaran peserta didik.
4.
Pemecahan masalah dapat membantu
peserta didik bagaimana mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah
dalam kehidupan nyata.
5.
Pemecahan masalah dapat membantu
peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab
dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
6.
Melalui pemecahan masalah dianggap
lebih menyenangkan dan disukai peserta didik.
7.
Pemecahan masalah dapat
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan mengembangkan
kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
8.
Pemecahan masalah dapat memberikan
kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka
miliki dalam dunia nyata.
9.
Pemecahan masalah dapat
mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus belajar.
Kelemahan model
pembelajaran berbasis masalah menurut Ahsan
dan Arfiyad (2012), adalah :
1. Manakala peserta
didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencoba.
2. Keberhasilan
strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk
persiapan.
3. Tanpa pemahaman
mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka
mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
8.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Kurikulum 2013
Model PBL
mengacu pada hal-hal yang sudah sesuai dengan tahap/proses pembelajaran serta
pendekatan yang terdapat dalam kurikulum 2013, berikut uraiannya sebagai
berikut :
a.
Kurikulum : PBL tidak seperti pada
kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek
sebagai pusat.
b.
Responsibility:
PBL menekankan responsibility dan
answerability para
siswa ke diri dan panutannya.
c.
Realisme : kegiatan siswa difokuskan pada pekerjaan
yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan
tugas autentik dan menghasilkan sikap profesional.
d.
Active-learning:
menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan siswa untuk
menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses
pembelajaran yang mandiri.
e.
Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan
evaluasi terhadap para siswa menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini
mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman.
f.
Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak
hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai
pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja
kelompok, dan self-management.
g.
Driving Questions:PBL
difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu siswa untuk berbuat
menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang
sesuai.
h.
Constructive Investigations :sebagai
titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para siswa.
i.
Autonomy:proyek
menjadikan aktifitas siswa sangat penting.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran berbasis masalah sudah sesuai dengan kurikulum 2013 baik
dari tahap-tahap yang ada dalam pembelajaran berbasis masalah yang sudah sesuai
dengan pendekatan yang ada dalam kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik, dan karakteristik yang ada dalam PBL sama dengan yang ada
dalam kurikulum 2013. selain itu dalam model ini juga siswa lebih aktif dalam
pembelajaran hal ini sudah sejalan dengan kurikulum 2013.
B.
Penilaian Portofolio
- Pengertian Portofolio
Penilaian portofolio termasuk ke
dalam kelompok penilaian kinerja. Dibandingkan dengan bentuk penilaian kinerja
lainnya, penilaian portofolio memiliki keistimewaan karena menyediakan kumpulan
dokumen sebagai bukti proses dan hasil belajar siswa. Penilaian portofolio
dilakukan terhadap kumpulan hasil kerja siswa (sejumlah dokumen hasil kerja
siswa).
Pengertian portofolio menurut para
ahli di antaranya:
- Collins (1992): Portofolio didefinisikan sebagai wadah yang berisi sejumlah bukti yang dikumpulkan untuk tujuan tertentu.
- Paulson (1991): Portofolio sebagai kumpulan pekerjaa siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka di dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan itu harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian dan bukti refleksi diri.
- David and Roger (2002) (dalam Nonika, 2005): Portofolio adalah kumpulan bukti atau keterangan mengenai para siswa atau sekelompok siswa yang menunjukkan kemajuan akademik, prestasi, ketrampilan, dan sikap. Dengan demikian portofolio sebagai asesmen adalah pengumpulan informassi tentang siswa melalui bukti beberapa contoh pekerjaan siswa yang berkelanjutan.
- Glencoe (1999): Portofolio adalah kumpulan dari pekerjaan siswa yang representative yang dikoleksi selama periode tertentu. Portofolio menggambarkan aktivitas siswa dalam sains, yang berfokus pada pemecahan masalah, bernalar dan berpikir kritis, komunikasi tertulis, dan pandangan siswa terhadap dirinya sendiri sebagai orang yang belajar sains.
- Gronlund (1998) (dalam Rusoni, 2001): Portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan siswa yang bergantung pada keluasan tujuan.
Jadi, Portofolio
dapat didefinisikan sebagai kumpulan pekerjaan siswa serta catatan tentang
kemajuan belajarnya, yaitu tentang dua hal pokok, yaitu: 1) tentang apa yang
telah siswa pelajari dan bagaimana keberhasilan mereka dalam belajar, 2)
tentang bagaimana siswa tersebut berpikir, bertanya, menganalisa, mensintesa,
memproduksi, dan berkreasi serta bagaimana siswa tersebut berinteraksi secara
intelektual, emosional dan sosial dengan yang lain.
Berdaasarkan
pengertian tersebut, penilaian portofolio dapat menilai pengetahuan, sikap, dan
keterampilan siswa. Penilaian terhadap semua aspek tersebut hanya dimungkinkan
apabila siswa dinilai melalui berbagai dokumen (tugas-tugas, hasil tes, catatan
guru tentang siswa, dokumen kehadiran, dll) yang disatukan. Meskipun penilaian
portofolio dapat menilai seluruh aspek tentang siswa, namun dalam praktiknya
guru dapat hanya menilai kemampuan kognitif ataupun keterampilan saja sesuai
dengan indikator pembelajarn yang akan dicapai. Dalam praktiknya juga guru
hanya dapat mengumpulkan satu jenis pekerjaan saja, misalnya makalah saja atau
laporan praktikum saja.
2. Karakteristik Penilaian Portofolio
Portofolio
merupakan salah satu alat yang yang efesien dalam proses pembelajaran. Berbagai
macam evidence peserta didik dapat dengan mudah dilihat dari waktu ke
waktu. Portofolio merupakan salah satu kegiatan yang memunngkinkan peserta
didik berdialog dalam kegiatan pembelajaran. Guru dan peserta didik dapat
berdiskusi tentang kemampuan dan kelemahan yang peserta didik miliki.
Menurut
Barton & Collins (1997) terdapat beberapa karakteristik dalam pengembangan
berbagai bentuk portofolio, yakni;
j.
Multi sumber, yakni portofolio
memungkinkan unntuk menilai berbagai macam evidence.
k.
Authentic, artinya ditinjau dari konteks
maupun fakta haruslah saling berkaitan satu sama lain.
l.
Eksplisit, artinya semua tujuan
pembelajaran berupa kompetensi dasar dan inndikator harus dinyatakan secara
jelas.
m.
Integrasi, artinya portofolio
senantiasa berkaitan antara program yang dilakukan peserta didik dikelas dengan
kehidupan nyata.
n.
Kepemilikan, yakni portofolio tidak
hanya sekedar menilai atau membuat perinngkat peserta didik yang satu dengan
peserta didik yang lain tetpi harus menyambungkan antara evidence peserta didik
dengan standar kompetensi.
o.
Beragam tujuan, yaitu portofolio
dilaksanakan tidak hanya mengacu pada satu standar kompetensi, kompetensi
dasar, atau indicator pencapaian belajar tetapi juga mengacu keberbagai tujuan,
misalnya beberapa indicator pencapaian hasil belajar.
Kemp dan Toperoff (1998) menyebutkan
beberapa karakteristik portofolio sebagai berikut:
- Portofolio merupakan model asesmen yang menuntut adanya kerja sama antara siswa dan guru.
- Portofolio bukan sekedar koleksi tugas siswa, tetapi merupakan hasil seleksi dimana siswa dilibatkan dalam memilih dan mempertimbangkan karya yang akan dijadikan bukti dalam portofolio.
- Portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu; koleksi karya tersebut digunakan oleh siswa untuk melakukan refleksi sehingga siswa dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan pada dirinya; hasil refleksi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai acuan pada proses pembelajaran berikutnya.
- Isi kriteria penyeleksian dan penilaian portofolio harus jelas bagi guru dan siswa dalam proses pelaksanaannya.
Menurut Barton dan Collins (1992),
semua objek portofolio dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
- Hasil karya peserta didik (artifacts), yaitu hasil kerja peserta didik yang dihasilkan di kelas.
- Reproduksi (reproduction), yaitu hasil kerja peserta didik yang dikerjakan di luar kelas.
- Pengesahan (attestations), yaitu pernyataan dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru atau pihak lainnya tentang peserta didik.
- Produksi (production), yaitu hasil kerja peserta didik yang dipersiapkan khusus untuk portofolio.
Pengumpulan data penilaian
portofolio dapat dilakukan dengan banyak cara. Pengumpulan ini dilakukan
melalui pengumpulan hasil kerja atau observasi yang obyektif, selektif, tidak
mencolok (tidak mengganggu siswa dalam belajar), dan dicatat secara hati-hati.
Pada dasarnya semua tugas-tugas siswa dapat menjadi bagian/komponen portofolio,
seperti jurnal, laporan praktikum, klipping, herbarium, laporan hasil
observasi, dan lain-lain.
3.
Keunggulan dan Kelemahan Portofolio
Penilaian
portofolio mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
- Portofolio sangat baik digunakan dalam merefleksikan prestasi dan perkembangan diri siswa.
- Membantu memotivasi siswa dan lebih melibatkan mereka dalam proses pembelajaran.
- Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengevaluasi kinerja dan produk mereka.
- Jika penilaian portofolio digunakan dengan baik dan benar, maka dapat memperkuat hubungan antara proses pembelajaran dan penilaian.
- Portofolio dapat meningkatkan komunikasi guru dengan siswa dan orang tua siswa.
Selain memiliki keunggulan,
penilaian portofolio juga memiliku kelemahan, yaitu:
- Dalam penilaian portofolio sukar dilakukan penyekoran dengan cara yang reliabel.
- Penilaian portofolio memakan banyak waktu dan persyaratan dalam proses pengerjaannya.
- Penyusunan Perangkat Portofolio
Ada beberapa hal yang dapat
dijadikan pedoman dalam penyusunan perangkat penilaian portofolio, antara lain:
- Membuat spesifikasi tujuan portofolio.
- Memutuskan item-item (kriteria) yang akan dimasukkan dalam penilaian portofolio.
- Membuat spesifikasi siapa saja yang akan mengerjakan portofolio tersebut.
- Menetapkan prosedur untuk mengevaluasi portofolio.
- Mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam proses penilaian portofolio.
Penilaian portofolio merupakan suatu
proses yang kontinu dan berkesinambungan. Setiap akhir periode pembelajaran,
guru dapat menilai hasil dan kemajuan siswa. Penilaian ini kemudian dilanjutkan
pada proses pembelajaran berikutnya. Dengan adanya keleluasaan tersebut, maka
penilaian portofolio sangat memungkinkan untuk memantau keterampilan proses
siswa. Meskipun demikian, guru perlu membatasi waktu pelaksanaan penilaian
portofolio apakah hanya pada materi tertentu atau hanya selama satu semester.
Berdasarkan
uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penilaian portofolio merupakan
penilaiana yang digunakan dalam evaluasi kurikulum 2013, karena penilaian
dengan portofolio sudah sesuai dengan karakterisrik evaluasi kurikulum 2013,
semua aspek yang ada dalam diri siswa menjadi penilaian dalam portofolio baik
dari aspek afektif, psikomotor, dan kognitif.
Sumber :
Cecil R. Reynolds, Ronald B.
Livingston, Victor Willson. 2009. Measurement and Assessment in Education.
Pearson.
Richard J. Stiggins. 1994. Student-Centered
Classroon Assessment. Macmillan College Publishing Company.
Assesment – Portofolio Assessment.
Education.stateuniversity.com/pages/1769/Assessment-PORTOFOLIO-ASSESSMENT.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar