Selasa, 27 Januari 2015

TASK 23 PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH



Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Penilaian Portofolio

A.   Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

1.      Pengertianproblem based learning
Pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada peserta didik berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris Problem-based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.
Boud dan Feletti dalam Rusman (2010) mengemukakan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Margetson dalam Rusman (2010) mengatakan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) membantu untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif, serta memfasilitasi keberhasilan memecahkan masalah, komunikasi, kerja kelompok, dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik dibanding model lain.
“Problem Based Learning (PBL) is a method of learning in which learners first encounter a problem followed by a systematic, learned centered inquiry and reflection process”. Artinya Problem Based Learning (PBL) adalah suatu metode pembelajaran dimana pembelajar bertemu dengan suatu masalah yang tersusun sistematis; penemuan terpusat pada pembelajar dan poses refleksi (Teacher and Edcucational Development ,2002).
Menurut Jodion Siburian, dkk dalam Utami (2011), Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih mendasar.
Selain itu,Muslimin dalam Utami (2011) mengatakan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu model untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah tersebut untuk menemukan pengetahuan baru. Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan menyajikan kepada peserta didik suatu situasi masalah yang autentik dan bermakna serta memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning / PBL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkut-paut) bagi peserta didik, dan memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata).
Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta didik menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru).
Pembelajaran Berbasis Masalah menyarankan kepada peserta didik untuk mencari atau menentukan sumber-sumber pengetahuan yang relevan. Pembelajaran berbasis masalah memberikan tantangan kepada peserta didik untuk belajar sendiri. Dalam hal ini, peserta didik lebih diajak untuk membentuk suatu pengetahuan dengan sedikit bimbingan atau arahan guru sementara pada pembelajaran tradisional, peserta didik lebih diperlakukan sebagai penerima pengetahuan yang diberikan secara terstruktur oleh seorang guru.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based learning), selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik. PBL adalah suatu model pembelajaran vang, melibatkanpeserta didik untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah.
2.      Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Masalah
1.      Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
2.      Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3.      Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
3.      Komponen-Komponen Pembelajaran Berbasis Masalah
Komponen-komponen pembelajaran berbasisi masalah dikemkakan oleh Arends, diantaranya adalah :
a.       Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana.
b.      Fokus interdisipliner. Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
c.       Pengamatan autentik. Hal ini dinaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.
d.      Produk. Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil pengamatan.produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain.
e.       Kolaborasi. Dapat mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
4.      Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Masalah
            Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menekankan padaproses penyelesaian masalah. Dalam implementasi model pembelajaran berbasis masalah, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan.  Model pembelajaran berbasis masalah ini dapat diterapkan dalam kelas jika :
a.       Guru bertujuan agar peserta didik tidak hanya mengetahui dan hafal materi pelajaran saja, tetapi juga mengerti dan memahaminya.
b.      Guru mengiginkan agar peserta didik memecahkan masalah dan membuat kemampuan intelektual siswa bertambah.
c.       Guru menginginkan agar peserta didik dapat bertanggung jawab dalam belajarnya.
d.      Guru menginginkan agar peserta didik dapat menghubungkan antara teori yang dipelajari di dalam kelas dan kenyataan yang dihadapinya di luar kelas.
e.       Guru bermaksud mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan, mengenal antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat tugas secara objektif.

5.      Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah
Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah sebagai berikut: (Rusman, 2010).

Tahapan
Tingkah Laku Guru
Tahap 1:
Orientasi siswa
kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan logistik
yang dibutuhkan, memotivasi siswa
agar terlibat pada pemecahan masalah
yang dipilihnya.
Tahap 2:
Mengorganisasi
siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan
dan mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah
tersebut.
Tahap 3:
Membimbing
penyelidikan
individual dan
kelompok
Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen, untuk
mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalahnya
Tahap 4:
Mengembagkan dan
menyajikan hasil
karya
Guru membantu siswa merencanakan
dan menyiapkan karya yang sesuai
seperti laporan, video dan model serta
membantu mereka berbagi tugas
dengan temannya.
Tahap 5:
Menganalisis dan
mengevaluasi proses
pemecahan masalah
Guru membantu siswa melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses
yang mereka gunakan.

Untuk lebih jelas lagi berikut uraian fase-faase problem based learning terutama dalam hal aktivitas yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran menggunakan model problem based learning ini.
Fase 1: Mengorientasikan siswa pada masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa dan juga oleh dosen. Disamping proses yang akan berlangsung, sangat penting juga dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang akan dilakukan.
Fase 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong siswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
Setelah siswa diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan siswa menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua siswa aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.
Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar mahasiswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca tentang masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada mahasiswa untuk berifikir tentang massalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya
Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu videotape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir mahasiswa. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan mahasiswa-mahasiswa lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.
Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan kete-rampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta mahasiswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh pemahaman yang jelas tentang situasi masalah? Kapan mereka yakin dalam pemecahan tertentu? Mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap dibanding yang lain? Mengapa mereka menolak beberapa penjelasan? Mengapa mereka mengadopsi pemecahan akhir dari mereka? Apakah mereka berubah pikiran tentang situasi masalah ketika penyelidikan berlangsung? Apa penyebab perubahan itu? Apakah mereka akan melakukan secara berbeda di waktu yang akan datang? Tentunya masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memberikan umpan balik dan menginvestigasi kelemahan dan kekuatan PBL untuk pengajaran.
6.      Penilaian dan Evaluasi
            Prosedur-prosedur penilaian harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai dan hal yang paling utama bagi guru adalah mendapatkan informasi penilaian yang reliabel dan valid.
            Prosedur evaluasi pada model pembelajaran berbasis masalah ini tidak hanya cukup dengan mengadakan tes tertulis saja, tetapi juga dilakukan dalam bentuk checklist, reating scales, dan performance. Untuk evaluasi dalam bentuk performance atau kemampuan ini dapat digunakan untuk mengukur potensi peserta didik untuk mengatasi masalah maupun untuk mengukur kerja kelompok. Evaluasi harus menghasilkan definisi tentang masalah baru, mendiagnosanya, dan mulai lagi proses penyelesaian baru.

7.      Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Sebagai suatu model pembelajaran, model pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
1.      Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2.      Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi peserta didik.
3.      Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik.
4.      Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik bagaimana mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5.      Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
6.      Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai peserta didik.
7.      Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
8.      Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
9.      Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus belajar.
Kelemahan model pembelajaran berbasis masalah menurut  Ahsan dan  Arfiyad (2012), adalah :
1.      Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2.      Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3.      Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
8.      Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Kurikulum 2013
Model PBL mengacu pada hal-hal yang sudah sesuai dengan tahap/proses pembelajaran serta pendekatan yang terdapat dalam kurikulum 2013, berikut uraiannya sebagai berikut :
a.       Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.
b.      Responsibility: PBL menekankan responsibility dan answerability para siswa ke diri dan panutannya.
c.       Realisme : kegiatan siswa difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas autentik dan menghasilkan sikap profesional.
d.      Active-learning: menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan siswa untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri.
e.       Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para siswa menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman.
f.       Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.
g.      Driving Questions:PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu siswa untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai.
h.      Constructive Investigations :sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para siswa.
i.        Autonomy:proyek menjadikan aktifitas siswa sangat penting.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah sudah sesuai dengan kurikulum 2013 baik dari tahap-tahap yang ada dalam pembelajaran berbasis masalah yang sudah sesuai dengan pendekatan yang ada dalam kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik, dan karakteristik yang ada dalam PBL sama dengan yang ada dalam kurikulum 2013. selain itu dalam model ini juga siswa lebih aktif dalam pembelajaran hal ini sudah sejalan dengan kurikulum 2013.









B.     Penilaian Portofolio
  1. Pengertian Portofolio
Penilaian portofolio termasuk ke dalam kelompok penilaian kinerja. Dibandingkan dengan bentuk penilaian kinerja lainnya, penilaian portofolio memiliki keistimewaan karena menyediakan kumpulan dokumen sebagai bukti proses dan hasil belajar siswa. Penilaian portofolio dilakukan terhadap kumpulan hasil kerja siswa (sejumlah dokumen hasil kerja siswa).

Pengertian portofolio menurut para ahli di antaranya:
  1. Collins (1992): Portofolio didefinisikan sebagai wadah yang berisi sejumlah bukti yang dikumpulkan untuk tujuan tertentu.
  2. Paulson (1991): Portofolio sebagai kumpulan pekerjaa siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka di dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan itu harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian dan bukti refleksi diri.
  3. David and Roger (2002) (dalam Nonika, 2005): Portofolio adalah kumpulan bukti atau keterangan mengenai para siswa atau sekelompok siswa yang menunjukkan kemajuan akademik, prestasi, ketrampilan, dan sikap. Dengan demikian portofolio sebagai asesmen adalah pengumpulan informassi tentang siswa melalui bukti beberapa contoh pekerjaan siswa yang berkelanjutan.
  4. Glencoe (1999): Portofolio adalah kumpulan dari pekerjaan siswa yang representative yang dikoleksi selama periode tertentu. Portofolio menggambarkan aktivitas siswa dalam sains, yang berfokus pada pemecahan masalah, bernalar dan berpikir kritis, komunikasi tertulis, dan pandangan siswa terhadap dirinya sendiri sebagai orang yang belajar sains.
  5. Gronlund (1998) (dalam Rusoni, 2001): Portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan siswa yang bergantung pada keluasan tujuan.
Jadi, Portofolio dapat didefinisikan sebagai kumpulan pekerjaan siswa serta catatan tentang kemajuan belajarnya, yaitu tentang dua hal pokok, yaitu: 1) tentang apa yang telah siswa pelajari dan bagaimana keberhasilan mereka dalam belajar, 2) tentang bagaimana siswa tersebut berpikir, bertanya, menganalisa, mensintesa, memproduksi, dan berkreasi serta bagaimana siswa tersebut berinteraksi secara intelektual, emosional dan sosial dengan yang lain.
Berdaasarkan pengertian tersebut, penilaian portofolio dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian terhadap semua aspek tersebut hanya dimungkinkan apabila siswa dinilai melalui berbagai dokumen (tugas-tugas, hasil tes, catatan guru tentang siswa, dokumen kehadiran, dll) yang disatukan. Meskipun penilaian portofolio dapat menilai seluruh aspek tentang siswa, namun dalam praktiknya guru dapat hanya menilai kemampuan kognitif ataupun keterampilan saja sesuai dengan indikator pembelajarn yang akan dicapai. Dalam praktiknya juga guru hanya dapat mengumpulkan satu jenis pekerjaan saja, misalnya makalah saja atau laporan praktikum saja.
2.      Karakteristik Penilaian Portofolio
Portofolio merupakan salah satu alat yang yang efesien dalam proses pembelajaran. Berbagai macam evidence peserta didik dapat dengan mudah dilihat dari waktu ke waktu. Portofolio merupakan salah satu kegiatan yang memunngkinkan peserta didik berdialog dalam kegiatan pembelajaran. Guru dan peserta  didik dapat berdiskusi tentang kemampuan dan kelemahan yang peserta didik miliki.
Menurut Barton & Collins (1997) terdapat beberapa karakteristik dalam pengembangan berbagai bentuk portofolio, yakni;
j.        Multi sumber, yakni portofolio memungkinkan unntuk menilai berbagai macam evidence.
k.      Authentic, artinya ditinjau dari konteks maupun fakta haruslah saling berkaitan satu sama lain.
l.        Eksplisit, artinya semua tujuan pembelajaran berupa kompetensi dasar dan inndikator harus dinyatakan secara jelas.
m.    Integrasi, artinya portofolio senantiasa berkaitan antara program yang dilakukan peserta didik dikelas dengan kehidupan nyata.
n.      Kepemilikan, yakni portofolio tidak hanya sekedar menilai atau membuat perinngkat peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain tetpi harus menyambungkan antara evidence peserta didik dengan standar kompetensi.
o.      Beragam tujuan, yaitu portofolio dilaksanakan tidak hanya mengacu pada satu standar kompetensi, kompetensi dasar, atau indicator pencapaian belajar tetapi juga mengacu keberbagai tujuan, misalnya beberapa indicator pencapaian hasil belajar.
Kemp dan Toperoff (1998) menyebutkan beberapa karakteristik portofolio sebagai berikut:
  1. Portofolio merupakan model asesmen yang menuntut adanya kerja sama antara siswa dan guru.
  2. Portofolio bukan sekedar koleksi tugas siswa, tetapi merupakan hasil seleksi dimana siswa dilibatkan dalam memilih dan mempertimbangkan karya yang akan dijadikan bukti dalam portofolio.
  3. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu; koleksi karya tersebut digunakan oleh siswa untuk melakukan refleksi sehingga siswa dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan pada dirinya; hasil refleksi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai acuan pada proses pembelajaran berikutnya.
  4. Isi kriteria penyeleksian dan penilaian portofolio harus jelas bagi guru dan siswa dalam proses pelaksanaannya.
Menurut Barton dan Collins (1992), semua objek portofolio dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
  1. Hasil karya peserta didik (artifacts), yaitu hasil kerja peserta didik yang dihasilkan di kelas.
  2. Reproduksi (reproduction), yaitu hasil kerja peserta didik yang dikerjakan di luar kelas.
  3. Pengesahan (attestations), yaitu pernyataan dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru atau pihak lainnya tentang peserta didik.
  4. Produksi (production), yaitu hasil kerja peserta didik yang dipersiapkan khusus untuk portofolio.
Pengumpulan data penilaian portofolio dapat dilakukan dengan banyak cara. Pengumpulan ini dilakukan melalui pengumpulan hasil kerja atau observasi yang obyektif, selektif, tidak mencolok (tidak mengganggu siswa dalam belajar), dan dicatat secara hati-hati. Pada dasarnya semua tugas-tugas siswa dapat menjadi bagian/komponen portofolio, seperti jurnal, laporan praktikum, klipping, herbarium, laporan hasil observasi, dan lain-lain.
3.      Keunggulan dan Kelemahan Portofolio
Penilaian portofolio mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
  1. Portofolio sangat baik digunakan dalam merefleksikan prestasi dan perkembangan diri siswa.
  2. Membantu memotivasi siswa dan lebih melibatkan mereka dalam proses pembelajaran.
  3. Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengevaluasi kinerja dan produk mereka.
  4. Jika penilaian portofolio digunakan dengan baik dan benar, maka dapat memperkuat hubungan antara proses pembelajaran dan penilaian.
  5. Portofolio dapat meningkatkan komunikasi guru dengan siswa dan orang tua siswa.
Selain memiliki keunggulan, penilaian portofolio juga memiliku kelemahan, yaitu:
  1. Dalam penilaian portofolio sukar dilakukan penyekoran dengan cara yang reliabel.
  2. Penilaian portofolio memakan banyak waktu dan persyaratan dalam proses pengerjaannya.
  3. Penyusunan Perangkat Portofolio
Ada beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan perangkat penilaian portofolio, antara lain:
  1. Membuat spesifikasi tujuan portofolio.
  2. Memutuskan item-item (kriteria) yang akan dimasukkan dalam penilaian portofolio.
  3. Membuat spesifikasi siapa saja yang akan mengerjakan portofolio tersebut.
  4. Menetapkan prosedur untuk mengevaluasi portofolio.
  5. Mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam proses penilaian portofolio.
Penilaian portofolio merupakan suatu proses yang kontinu dan berkesinambungan. Setiap akhir periode pembelajaran, guru dapat menilai hasil dan kemajuan siswa. Penilaian ini kemudian dilanjutkan pada proses pembelajaran berikutnya. Dengan adanya keleluasaan tersebut, maka penilaian portofolio sangat memungkinkan untuk memantau keterampilan proses siswa. Meskipun demikian, guru perlu membatasi waktu pelaksanaan penilaian portofolio apakah hanya pada materi tertentu atau hanya selama satu semester.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penilaian portofolio merupakan penilaiana yang digunakan dalam evaluasi kurikulum 2013, karena penilaian dengan portofolio sudah sesuai dengan karakterisrik evaluasi kurikulum 2013, semua aspek yang ada dalam diri siswa menjadi penilaian dalam portofolio baik dari aspek afektif, psikomotor, dan kognitif.
Sumber :
Cecil R. Reynolds, Ronald B. Livingston, Victor Willson. 2009. Measurement and Assessment in Education. Pearson.
Richard J. Stiggins. 1994. Student-Centered Classroon Assessment. Macmillan College Publishing Company.
Assesment – Portofolio Assessment. Education.stateuniversity.com/pages/1769/Assessment-PORTOFOLIO-ASSESSMENT.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar