ESENSIALISME
ITU APA ?
Essensialisme
suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai
suatu kritik terhadap trend-trend progreif di sekolah-sekolah. Essensialisme,
berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu inti pengetahuan umum yang
harus diberikan di sekolah-sekolah dalam suatu cara yang sistematik dan
berdisiplin. Essensialisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan
keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota
masyarakat yang produktif. Essensialisme, sepertihalnya perenialisme dan
progresivisme bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri, yang mendirikan
suatu bangunan filsafat, malainkan suatu gerakan dalam pendidikan yang
memprotes terhadap pendidikan progresivisme. Essensialisme mengadakan protes
tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan
progresivisme seperti halnya yang dilakukan perenislisme. Dua aliran filsafat
–idealisme dan realisme – yang membentuk corak essensialisme sebagai pendukung
essensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan
sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
A. PANDANGAN SECARA ONTOLOGI
Sifat yang
menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsepsi bahwa dunia ini
dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia beserta isinya dengan
tiada cela pula. Ini berarti bahwa bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak dan
cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata cara tersebut. Tujuan umum
aliran esensialisme adalah membentuk kebahagiaan dunia dan akherat. Isi
pengetahuannya mencakup, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan
kehendak manusia. Dan dalam perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan
berbagai pola idealisme, realisme dan sebagainya. Uraian mengenai penjabaran
menurut realisme dan esensialisme ialah:
- Realisme mendukung essensialisme yang disebut realisme objektif karena memiliki pandangan yang sitematis mengenai alam serta tempat manusia didalamnya.
- Idealisme objektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme objektif. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakekatnya adalah jiwa atau spirit, idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata.
Ciri lain
mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam
pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos menunjukkan
kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis.
Mikrokosmos menunjukkan kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. Manusia
sebagai individu, jasmani dan rohani adalah mahkluk yang semua tata cara
kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta.
Pengertian tentang makrokosmos dan mikrokosmios ini merupakan dasar pengertian
mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia.
B. PANDANGAN SECARA EPISTIMOLOGI
Pada
kacamata realisme masalah pengetahuan ini, manusia adalah sasaran pandangan
dengan penelaan bahwa manusia perlu dipandang sebagai mahluk yang padanya
berlaku hukum-hukum yang mekanistik evolusionistis. Sedangkan menurut
idealisme, pandangan mengenai pengetahuan ini bersendikan pada pengertian bahwa
manusia adalah mahluk yang adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul
dari hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos.
1.
Kontraversi Jasmaniah Rohaniah
2.
Pendekatan Idealisme pada Pengetahuan
a. Kita hanya mengerti rohani kita sendiri, tetapi
pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain.
b. Menurut T. H Green, approach personalisme itu hanya
melalui introspeksi. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya
dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Oleh sebab itu pengalaman mental
pasti melalui refleksi antara macam-macam pengalaman.
c. Dalam filsafat religious yang modern, ada teori
yang mengatakan bahwa apa yang dimengerti tentang sesuatu ialah karena
resonansi dengan Tuhan.
3. Pendekatan Realisme pada Pengetahuan, Ada beberapa pendekatan
realisme pada pengetahuan, yakni;
a. Menurut
Teori Asosiasinisme, Pikiran atau ide-ide (teori ini dipengaruhi oleh filsafat
empirisme John Locke) serta isi jiwa terbentuk dari asosiasi unsur-unsur yang
berupa kesan-kesan yang berasal dari pengamatan. Kesan-kesan tersebut juga
disebut tanggapan yang dapat diumpamakan sebagai atom-atom dari jiwa.
b. Menurut
Teori Behaviorisme, Behaviorisme beranggapan bahwa tingkah laku sebagai istilah
dasar yang menunjuk pada hidup mental, sebab manusia sebagai suatu organisme
adalah totalitas mekanisme biologis. Dengan demikian untuk mengetahui atau
memahami sikap hidup mental seseorang maka kita harus memahami organisme.
c. Menurut
Teori Koneksionisme, Koneksionisme mempunyai konsep-konsep yang bersifat
meningkatkan pandangan dari behaviorisme, karena dikatakan bahwa manusia dalam
hidupnya selalu membentuk tata jawaban (pattern of respons) dengan jalan
memperkuat atau memperlemah hubungan antara (conecctions between) stimulus dan
respons. Sehingga terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon yang
akhirnya menunjukkan kualitas tinggi-rendah atau kuat-lemah.
4. Tipe
Epistemologi Realisme
Ada dua tipe
epistemologi realisme, yaitu;
a.
NeorealismeNeorealisme secara psikologis lebih erat dengan behaviorisme. Baginya
pengetahuan diterima ditangkap langsung oleh pikiran dunia realita. Oleh karena
itu neorasionslisme menafsirkan badan sebagai respon khusus yang berasal dari
luar dengan sedikit atau tanpa adanya proses intelek.
b. Critical
Realisme
Aliran ini menyatakan
bahwa media antara intelek dengan realitas adalah seberkas penginderaan dan
pengamatan.
C. PANDANGAN SECARA AKSIOLOGI
Pandangan
Aksiologi sangat dipegaruhi oleh ontologi dan epistemologi. Terhadap aliran ini
nilai-nilai tergantung pada pandangan idealisme dan realisme sebab sebagaimana
yang telah kita ketahui di atas bahwa esensialisme terbertuk dari kedua aliran
tersebut.
1. Teori
Nilai Menurut Idealisme
Menurut
idealisme bahwa sikap, tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai
hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Penganut idealisme berpegang bahwa
hukum-hukum etika adalah hukum kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik jika
banyak interaktif berada didalam dan melaksanakan hukum-hukum itu.
2. Teori
Nilai Menurut Realisme
Menurut realisme,
kualitas nilai tidak dapat ditentukan secara konseptual, melainkan tergantung
dari apa atau bagaimana keadaannya bisa dihayatioleh subjek tertentu dan
selanjutnya akan tergantung pula dari sikap subjek tersebut. Teori lain yang
muncul dari realisme disebut determinismetis. Dikatakan bahwa semua yang ada
dalam alam ini, termasuk manusia, mempunyai hubungan hingga merupakan rantai
sebab akibat.Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini bersifat
umum, simplikatif dan selektif dengan maksud agar semata-mata dapat memberikan
gambaran mengenai bagian-bagian utama dari esensialisme. Di samping itu karena
tidak setiap filsuf midealis atau realis mempunyai paham esensialistis yang
sistematis, maka uraian ini bersifat eklektis.Essensialisme timbul karena
adanya tantangan mengenai perlunya usaha emansipasi diri sendiri. usaha ini
diisi dengan pandangan-pandangan yang bersifat menanggapi hidup yang mengarah
pada kedunian, ilmiah dan teknologi. Oleh karena terasaskan adanya saingan dari
progresivisme, maka pada sekitar tahun 1930 timbul organisasi yang bernama
Essentialist Committee for the Advancement of Education. Dengan timbulnya
komite ini pandangan-pandangan esensialisme mulai diketengahkan dalam dunia
pendidikan.Dalam idealisme yang dititikberatkan ada pada aku. Sehingga bila
seseorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri,
terus bergerak keluar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju
makrokosmos. Hal ini berlandaskan pada pandangan Imanuel Khant (1724-1804), yang
mengatakan bahwa, segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera
memerlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.
Dengan mengambil landasan pikir tesebut belajar dapat didefinisikan sebagai
jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spritual. Jiwa membina
dan menciptakan diri sendiri.
Pandangan
realisme mengenai belajar, tercermin antara lain pada pandangan ahli-ahli
psikologi, seperti; Edward L, Thorndike pendukung aliran koneksionisme.
Dengan
demikian pandangan-pandangan realisme mengenai pendidikan mencerminkan dua
jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas;
1. Determinisme Mutlak, menunjukkan bahwa belajar
adalah mengenal hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus
ada yang bersama-sama membentuk dunia ini.
2. Determinisme Terbatas, memberikan gambaran
kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap
hal-hal yang kuantitatif didunia ini tidak berarti dimungkinkan adanya
penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawasan diperlukan.
Essensialisme
suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai
suatu kritik terhadap trend-trend progreif di sekolah-sekolah. Essensialisme,
berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu inti pengetahuan umum yang
harus diberikan di sekolah-sekolah dalam suatu cara yang sistematik dan
berdisiplin. Essensialisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan
keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota masyarakat
yang produktif. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk kebahagiaan
dunia dan akherat. Isi pengetahuannya mencakup, kesenian dan segala hal yang
mampu menggerakkan kehendak manusia. Dan dalam perkembangannya, kurikulum
esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme, realisme dan sebagainya.
Pada
kacamata realisme masalah pengetahuan ini, manusia adalah sasaran pandangan
dengan penelaan bahwa manusia perlu dipandang sebagai mahluk yang padanya
berlaku hukum-hukum yang mekanistik evolusionistis. Sedangkan menurut
idealisme, pandangan mengenai pengetahuan ini bersendikan pada pengertian bahwa
manusia adalah mahluk yang adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul
dari hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Pandangan Aksiologi sangat
dipegaruhi oleh ontologi dan epistemologi. Terhadap aliran ini nilai-nilai
tergantung pada pandangan idealisme dan realisme sebab sebagaimana yang telah
kita ketahui di atas bahwa esensialisme terbertuk dari kedua aliran tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Bakry, Hasbullah, Sitematik Filsafat (Widjaya,
Yogyakarta, 1970).
Idris, H. Sahara dan Jamal, H Lisman, Pengantar
Pendidikan (Grasindo, 1992)
Sumitro, Dkk, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta
Murtiningsih, Siti, Pendidikan Alat Perlawanan, Resist Book, 2004
Sadullah, Uyah. Drs, Pengantar Filsafat Pendidikan (Alfabet, Yogyakarta 2004)
Sumitro, Dkk, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta
Murtiningsih, Siti, Pendidikan Alat Perlawanan, Resist Book, 2004
Sadullah, Uyah. Drs, Pengantar Filsafat Pendidikan (Alfabet, Yogyakarta 2004)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar